Me Love Movies.

Welcome To Movies In Words

Posts tagged review

6 notes

Europe on Screen 2011 dan Review Singkat EoS Short Film Competition (‘Bermula Dari A’, ‘Timun Mas’, ‘Shelter’, ‘Territorial Pissing’, ‘Ga Semudah Itu, Brur’, ‘Nyanyian Para Pejuang Sunyi’, ‘Black Journey’, dan ‘Emit’)

Festival Film Eropa (Europe on Screen, disingkat EoS) selalu mempunyai tempat khusus di hati saya. EoS tahun ini menandakan kali kelima saya mengikuti festival film yang selalu diadakan menjelang akhir tahun ini. Pertama kali saya mengetahui adanya EoS pada 2007, ketika itu saya langsung tertarik akan konsep yang ditawarkan festival film ini. Tujuan EoS sangat simple, menyajikan Eropa di negara kita sendiri. Sehingga, alih-alih diselenggarakan di bioskop, pemutaran film diselengarakan di berbagai pusat kebudayaan Eropa yang tersebar di beberapa kota besar di Indonesia. Pusat-pusat kebudayan tersebut menjadi pintu gerbang para penonton dalam “merasakan” Eropa, memberikan atmosfir berbagai negara Eropa di kota sendiri sebelum menyaksikan film yang hendak ditonton. Walaupun ada tujuan promosi di dalamnya, EoS menegaskan keberadaan dan peran pusat-pusat kebudayaan Eropa di tengah kota-kota besar di Indonesia, selalu terbuka bagi siapapun yang tertarik akan budaya Eropa, seperti saya.

Ya, semenjak tahun 2007, saya mulai rajin berkeliling ke berbagai pusat kebudayan Eropa di Jakarta yang sebelumnya bahkan tidak pernah saya ketahui, demi memuaskan rasa penasaran akan cita rasa film Eropa. Kala itu, pusat kebudayan yang pertama kali saya datangi adalah Centra Culture de France (CCF) yang tahun ini berganti nama menjadi Institut Francais Indonesia (IFI). Pusat kebudayaan Perancis yang homey, nyaman, sederhana, dan mudah diakses dari berbagai daerah di Jakarta ini adalah tempat favorit saya saat maraton film EoS, walaupun venue pemutaran film yang disebut Cinematique terbilang kecil dan sempit dibanding venue pemutaran lainnya. Pusat kebudayaan German, Goethe Intitut atau Goethehaus (GH) mempunyai kelebihan ruang pemutaran yang besar dan terletak di pusat kota, walau akses angkutan umum terbatas, kecuali taksi atau mengendarai kendaraan pribadi. Instutito Italiano Di Cultura (IIC) lebih ditengah kota, walau venue pemutaran di pusat kebudayaan Italia ini terasa kurang nyaman, khususnya jika kita duduk di baris depan dengan bangku pantai yang terkesan santai namun tidak didesain untuk menonton film. Erasmus Huis (EH), pusat kebudayaan Belanda ini terletak di jalan protokol H.R. Rasuna Said dengan kapasitas bangku yang paling besar dibanding venue pemutaran lain dengan total 320 bangku. Dan jangan lupakan Kineforum, yang terlihat seperti sebuah studio XXI mini dengan 45 bangku, bertempat dibelakang XXI TIM, selalu menjadi tempat pemutaran film indipenden lokal, film Indonesia yang tayang terbatas, maupun film-film asing dari seluruh dunia yang tidak tayang reguler di bioskop ibukota. Selain menjadi satu-satunya venue pemutaran EoS yang bukan pusat kebudayaan, Kinforum juga telah bertahun-tahun mendukung festival film non-komersil, seperti Q! Film Festival maupun Bulan Film Nasional.

Komitmen EoS untuk tetap menyajikan film Eropa tanpa memungut biaya apapun memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siapapun, tanpa batasan kelas ekonomi maupun sosial. Penonton hanya harus belajar disiplin dan menghargai waktu, dengan peraturan pengambilan tiket dengan bangku free seated sekitar 30 menit sebelum pemutaran berlangsung. Uniknya lagi, EoS bukan hanya menjadi jembatan bagi penduduk lokal yang ingin “merasakan” Eropa, EoS juga menjadi jembatan antara penduduk lokal maupun warga asing untuk “mencicipi” cita rasa film lokal Indonesia dengan menyediakan wadah berupa EoS Short Film Competion yang menghadirkan film - film pendek karya filmmaker lokal yang mungkin tidak banyak dikenal karena bermain di ranah independen.

Pemutaran EoS Short Film Competition mengawali maraton EoS saya tahun ini. Film-film pendek yang ditayangkan datang dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang dan Padang Panjang. EoS Short Film Competition menyajikan sembilan film finalis dengan lingkup tema Old and Young, tema yang diusung EoS tahun ini. Pada ajang kompetisi ini, setiap film dapat dipilih penonton sebagai film terfavorit melalui kertas voting yang disediakan sebelum memasuki vanue pemutaran. Berikut review singkat saya mengenai kesembilan film tersebut.

Bermula Dari A | Sutradara: BW. Purba Negara | Penulis Skrip: BW. Purba Negara | Pemain: Natasya Putri Sastrosoemarto & Bagus Suitrawan | Durasi: 15 menit | Tahun: 2011 | Negara: Indonesia, Yogyakarta | Rating: 3,5 out of 5 stars.

Judulnya terasa pas untuk mengawali sekuen EoS Short Competition. Bermula Dari A, film yang menyabet piala Ladrang Award dengan predikat film terbaik dalam ajang Festival Film Solo 2011, dibuka dengan proses pembelajaran pelafalan huruf A. Pelakonnya sunguh tak biasa. Sang pengajar adalah gadis tuna netra berjilbab, sedangkan yang diajarinya melafalkan huruf A adalah seorang remaja pria tuna rungu (dan tuna wicara). Film berfokus pada kedua insan ini, dilihat dari dominasi shot close up dan medium close up di sepanjang film yang dengan sempurna menangkap eksperesi wajah masing-masing tokoh ketika mereka berinteraksi . Seiring berjalannya waktu, Bermula Dari A menggambarkan dunia kecil si gadis tuna netra dan remaja pria tuna rungu terasa manis> Lihatlah bagaimana kelebihan dan kekurangan masing-masing tokoh saling melengkapi ketika mereka melakukan aktivitas jual-beli kacamata baru untuk si gadis. Saya rasa pemilihan warna film yang hitam-putih, yang seakan mengambarkan dunia mereka yang tak penuh warna, dengan sendirinya terkontradiksi oleh manisnya adengan-adegan seperti ini. Film ini juga berusaha melepaskan diri dari aksesoris yang melekat pada kedua pemerannya. Sang gadis tak segan membuka ikatan jilbabnya sehingga lehernya terlihat dengan maksud agar si remaja pria dapat mempelajari bentuk tenggorokan ketika melafalkan kata ‘akbar’. Leher, dalam pengertian Islam merupakan termasuk aurat yang tak boleh dilihat lawan jenis, jika bukan muhrimnya.

Walaupun manis, premis dua anak manusia yang masing-masing memiliki keterbatasan fisik namun mencoba saling mengasihi ini tak lantas jatuh dalam ruang melankolis yang menguras simpati penonton. BW Purba Negara meramunya dengan baik, menyuguhkan kita cerita unik sehingga kisah kedua insan ini mengalir lembut dengan ending yang menyuguhkan twist yang mampu merombak konstruksi cliche dalam fikiran penonton pada umumnya.

======================================================================
Timun Mas | Sutradara: Gatya Pratiniyata | Animasi | Durasi: 3 menit | Tahun: 2009 | Negara: Indonesia, Bandung | Rating: 3 out of 5 stars.

Siapa yang tidak tahu kisah Timun Mas? Gatya Pratiniyata, sang sutradara, mencoba memvisualkan cerita rakyat dari tanah Jawa dalam bentuk animasi. Tidak ada perubahan cerita didalamya. Ceritanya tetap sama: Timun Mas yang lahir dari timun berwarna emas hasil perjanjian antara si ibu tua yang tak urung memiliki anak dengan raksasa hijau besar menyeramkan, Buto Ijo. Perjanjian itu mengharuskan sang ibu menyerahkan Timun Mas ketika ia sudah besar untuk menjadi santapan sang Buto Ijo. Karena tak rela, sang ibu meminta bantuan kepada seorang pertapa yang memberinya “kantung ajaib” yang berisi bumbu dapur, seperti garam, cabe merah, mentimun, dan terasi. Bumbu - bumbu dapur itu masing-masing memiliki kekuatan sehingga membantu Timun Mas lari dari kejaran Buto Ijo.

Dalam menuturkan Timun Mas, Gatya menyuguhkan animasi yang terbilang baik dan hidup. Tempo dibangun utamanya berkat sound effect dan narasi yang bertempo semakin lama semakin cepat, seakan sang narator ikut berlari bersama Timun Mas dari kejaran Buto Ijo. Usaha dan niat sang sutradara mengangkat kisah ini menjadi film animasi pendek membuat film ini diganjar gelar Film Terbaik di ajang Goelali Fest 2011 dan dinominasikan dalam kategori Film Pendek Terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2010.

======================================================================

Shelter | Sutradara: Ismael Basbeth | Durasi: 15 menit | Tahun: 2011 | Negara: Indonesia, Yogyakarta | Rating: 1.5 out of 5 stars.

Shelter merupakan film yang menggunakan teknik one shot, sehingga hanya ada 1 scene dan tidak ada pergerakan kamera di dalamnya. Film ini juga tidak memiliki dialog antar pemainnya. Lalu bagaimana Shelter dapat bercerita? Selama 15 menit, layar hanya berisi seorang gadis dengan rok pendek dan stocking tertidur di bangku belakang sebuah metro mini. Di atas paha si gadis, ada seorang laki-laki yang tidur dan kemudian bangun, dan mulai menciumi daerah - daerah yang mampu membangkitkan hasrat seksual sang gadis. Namun apa yang terjadi? Si gadis tetap asik tertidur, seakan tak peduli akan apa yang terjadi dan tak merasakan apa -apa.

Sesaat, saya kira film yang sempat ditayangkan pada Busan International Film Festival 2011 ini akan meneriakan keadaan sosial yang penuh kriminalitas dan tak lagi aman seperti yang sering terjadi belakangan ini (pemerkosaan di angkot, mahasiswi hilang, dan lain-lain). Namun tujuan Shelter ternyata jauh dari itu, dan lebih sederhana. Sangking sederhananya, pada detik berikutnya, saya sudah dapat menebak maksud dan ending film ini. Ditambah dengan teknik hand-held camera yang digunakan dengan maksud agar film tampak mengikuti pergerakan laju metro mini yang berjalan tidak stabil ini malah mengganggu dan menambah kejemuan ketika menyaksikan film ini.

======================================================================

Territorial Pissing | Sutradara: Jason Iskandar | Durasi: 7 menit | Tahun: 2010 | Negara: Indonesia, Jakarta | Rating: 2 out of 5 stars.

Territorial Pissing, yang merupakan Film Pendek Asia Terbaik di Jogja-Netpac Asian Film Festival 2010, bercerita tentang dua remaja tanggung yang sedang beristirahat ketika melakukan perjalanan ke luar kota menggunakan mobil pribadi. Sebelum kembali melanjutkan perjalanan, percakapan terjadi diantara mereka dan sekelilingnya. Premis yang sederhana bukan? Dengan premis sesingkat itu Territorial Pissing mencoba mengungkapkan konflik yang terjadi diantara dua remaja tadi dengan cara mengontraskan mereka dengan pajangan Mickey-Mini Mouse yang “berkendara” di atas dashboard mobil mereka. Hal ini dirasa efektif, walau tak memberi penonton apa-apa.

======================================================================

Gak Semudah Itu, Brur | Sutradara: Gundala | Durasi: 4 menit | Tahun: 2009 | Negara: Indonesia, Jakarta | Rating: 4.5 out of 5 stars.

Obrolan sore hari terjadi antara Bruri dan temannya Iyank. Suasananya santai, mereka berbincang mengenai persoalan hidup Bruri sambil menonton TV. Bruri merokok, Iyank membaca koran. Namun, tunggu, perhatikan gerak-gerik Bruri dan Iyank. Pergerakan mereka mundur ke belakang, walau acara TV dan denting jam terus maju kedepan. Asap hasil hisapan rokok Bruri bukanya terhembus ke udara, malah tertarik ke dalam mulutnya. Gundala sang sutradara mampu memberikan efek sinematografis yang baik demi menyokong ending yang mampu membuat penonton terbahak. Gak Semudah Itu, Brur memberikan saya pelajaran bahwa ucapan kita 5 menit yang lalu bisa jadi sangat kontradiktif dengan apa yang kita lakukan sekarang.

======================================================================

Nyanyian Para Pejuang Sunyi | Sutradara: Adriyanto Dewo | Pemain: Titi Sjuman dan Lola Amaria | Durasi: 8 menit | Tahun: 2010 | Negara: Indonesia, Jakarta | Rating: 2 out of 5 stars.

Lanskap sebuah dermaga di Hongkong, dengan pemain Titi Sjuman dan Lola Amaria. Apa yang ada di fikiran Anda? Sesaat, saya mengira film pendek ini semacam extended version dari film Minggu Pagi di Victoria Park. Tapi entahlah, sampai film selesai, tidak ada informasi mengenai hal itu. Kemungkinan itu ada karena selain bersetting di Hongkong, film ini memakai tokoh Wati dan Sri yang menjadi tokoh utama dalam Minggu Pagi di Victoria Park. Diceritakan disini Wati dan Sri yang merupakan pembantu rumah tangga asal Indonesia memainkan permainan sederhana, dimana yang menang dapat mengambil kantong belanja bulanan majikannya. Apa yang terjadi ketika salah satu isi dari belaja bulanan itu daging babi? Bisakah najisnya daging babi tersebut “dicuci” dengan cleanser cream yang juga terdapat di dalam kantung belanja tersebut? Film tanpa dialog ini berujung absurd, walau dengan sinematografi yang baik.

======================================================================

Angkot dan Cerita | Sutradara:Herryaldi Kurniawan | Dokumenter | Durasi: 11 menit | Tahun: 2011 | Negara: Indonesia, Padang Panjang | Rating: 2 out of 5 stars.

Dokumenter ini menyoalkan stiker yang menempel pada jendela -jendala angkutan umum di Padang Panjang . Perhatikanlah, begitu seringnya kita menemui striker bergambar bendera Britania Raya, Amerika, Jepang, dll. Ada juga lambang band - band tanah air seperti Slank, Iwan
Fals, Dewa, dan semacamnya. Beberapa ada yang bertuliskan ‘Losta Masta’ atau ‘Anak Nongkrong MTV’. Bermacam stiker itu rupanya dipilih berdasarkan selera sang supir ataupun pemilik angkot tersebut.

Cerita dibangun dari obrolan dua supir angkot yang bertugas sebagai narator. Dari pemilihan striker angkot, bergeser ke wacana bahwa sangat sedikit sekali angkot yg ditempeli stiker bendera Indonesia ataupun tulisan yang berbau nasionalisme. Lama kelamaan, diskusi semakin melebar sampai pada isu politik di negara - negara berkembang. Film yang menggunakan teknik zoom sampai extreme zoom ini, pada awalnya menarik, namun semakin lama semakin membosankan.

======================================================================

Black Journey | Sutradara: Astu Prasidya | Animasi | Durasi: 4 menit | Tahun: 2011 | Negara: Indonesia, Malang | Rating: 3 out of 5 stars.

Animasi kedua dari sekuen EoS Short Competition adalah Black Journey. Animasi ini menceritakan tentang perjalanan singkat yang miris dan kelam dari seekor anak burung yang belum lagi menetas dengan sempurna namun terjatuh dari pohon dan kini harus mencari induknya. Ia harus berkenala sampai ke kota, dimana ia menjadi korban paling nyata dari pemanasan global. Detail - detail yang ada dalam perjalanan sang anak burung mampu mengundang simpati. Klise, ingin mengingatkan kita akan bahaya pemanasan global namun dieksekusi dengan sangat menyentuh.

======================================================================

Emit | Sutradara: Sammaria Simanjuntak | Pemain: Sunny Soon | Durasi: 5 menit | Tahun: 2011 | Negara: Indonesia, Bandung | Rating: 3 out of 5 stars.

Sammaria Simanjuntak lagi - lagi memakai Sunny Soon dalam filmnya. Dan film ini pun, seperti Nyanyian Para Pejuang Sunyi yang mengingatkan saya akan Minggu Pagi di Victoria Park, Emit mengingatkan saya akan film Cin(t)a. Pertanyaan saya pun berulang, apakah film pendek ini semacam extended version dari film panjang yang sudah ada?

Layar dibuka dengan Sunny Soon yang seperti dalam film Cin(t)a, menggunakan simbolisasi jari yang digambari wajah saling berpeluk satu dengan yang lain. Dari awal hingga pertengahan film, kita disuguhkan Sunny Soon yang tersenyum riang ke arah kamera, seakan - akan yang merekamnya itu kekasih hatinya. Lalu ada simbolisasi satu jari yang menjauh dari jari yang lain, dan kemudian segalanya diulang seperti alur flashback hanya saja kini dengan wajah Sunny yang muram. Film ini seperti ingin menggambarkan kesedihan seorang lelaki yang ditinggal kekasihnya dan menyesal pernah melakukan apa yang mereka lakukan ketika masih bersama.

======================================================================

Dari kesembilan finalis EoS Short Competition, saya paling suka dengan Gak Semudah Itu, Brur. Film ini membuktikan bahwa dengan ide cerita yang simple dan eksekusi teknik visual yang tepat, empat menit adalah durasi yang cukup untuk menyuguhkan cerita yang menghibur dan penuh arti.

Baca juga:

Review Nowhere Boy (opening film for EoS 2011)

Review EoS Short Film Competition 2010 (SOIna, CINtA, Purnama di Pesisir, Your Phone Is Off The Hook)

Kompilasi Review EoS 2010 (Seven Billyard Tables, The World Is Big And Salvation Lurks Around The Corner, Soul Kitchen, Pains of Autumn, The Mystery of Sintra’s Road, Brideshead Revisited, dan Cosmonaut)


Filed under review EOS Shorts Bermula Dari A BW Purba Negara Timun Mas Gatya Pratiniyata Shelter Ismael Sasbeth erritorial Pissing Jason Iskandar Ga Semudah Itu Brur Gundala Nyanyian Para Pejuang Sunyi Adriyanto Dewo titi sjuman Lola Amaria Angkot dan Cerita Harryaldi Kurniawan Black Journey Astu Prasidya Emit Sammaria Simanjuntak Sunny Soon film pendek indonesian film

15 notes

Review: Magic Beyond Words - The JK Rowling Story

Magic Beyond Words – The JK Rowling Story | Sutradara: Paul A. Kaufman | Penulis Skrip: Jeffrey Berman & Tony Caballero (based on a novel by Sean Smith) | Pemain: Poppy Montgomery, Janet Kidder, Antonio Cupo, Emily Holmes, Andy Maton, Wesley McInnes, Patti Allan | Tahun: 2011 | Negara: UK, Scotland | Rating: 3,5 out of 5 stars

Christopher: “Jo, I give you a business advice, don’t quit your day job, nobody makes any money writing children books.” | Jo: “Ah, well, I write because I love to write, not because I want to get rich.”

Kalimat diatas dilontarkan oleh Christopher Little, seorang agen untuk para penulis, ketika ia dan JK Rowling hendak mencari penerbit yang bersedia menerbitkan novel pertama Harry Potter. Persepsi mengenai penulis buku anak-anak yang dianggap tidak dapat menjadi tumpuan penghasilan pun terbukti tidak berlaku pada JK Rowling, karena justru dengan menulis buku anak-anak lah ia sekarang menjadi salah satu wanita terkaya di dunia.

Nama JK Rowling mungkin telah menjadi salah satu nama penulis paling terkenal di dunia saat ini. Siapa yang tidak tahu sang pengarang ketujuh novel Harry Potter yang telah menyihir dunia selama lebih dari satu dekade ini? Penulis novel yang juga selalu menjadi penulis skrip (bersama Steve Kloves) seluruh film Harry Potter ini mulai mencuat namanya ketika novel Harry Potter pertama - Harry Potter and the Philosopher’s (Sorcerer’s) Stone terbit di UK tahun 1997 dengan membawa cerita petualangan nan segar tentang seorang bocah yatim piatu yang menyadari dirinya seorang penyihir dan kemudian mengalami perjalanan hidup yang luar biasa inspiratif ketika ia “terpaksa” menjadi pahlawan dunia sihir dan berhadapan dengan penyihir yang membunuh kedua orangtuanya.

Kisah hidup JK Rowling sang penulis ternyata tak kalah inspiratifnya dengan ketujuh novel Harry Potter yang melambungkan namanya. Sebuah stasiun TV Amerika, Lifetime Television tertarik untuk mengangkat kisah hidup sang penulis yang akrab disapa Jo ini melalui sebuah film televisi biopic berjudul Magic Beyond Words – The JK Rowling Story yang telah ditayangkan beberapa waktu yang lalu.

Magic Beyond Words – The JK Rowling Story memotret kehidupan Jo dari semasa ia kecil sampai menjadi seorang penulis novel terkenal. Diceritakan Jo kecil yang punya daya khayal tinggi sering bermain bersama adiknya Diane menjadi nenek sihir penjaga hutan di dekat rumah mereka di pedalaman Skotlandia. Daya khayal Jo tersebut ia tuangkan dalam berbagai tulisan. Sayangnya, Jo kecil tidak punya banyak teman dan selalu dianggap aneh oleh teman-teman sebayanya. Hanya Sean Harris, remaja pria berambut merah yang mau berteman dengannya. Hidup Jo bertambah rumit ketika suatu hari ibunya divonis mengidap penyakit multiple sclerosis. Banyak keputusan hidup yang harus ia ambil dengan pertimbangan penyakit ibunya tersebut, salah satunya, impiannya untuk menjadi penulis. Setelah lulus kuliah, Jo kerap berpindah-pindah pekerjaan karena tidak dapat menemukan satu pekerjaan pun yang ia rasa cocok untuknya. Hingga suatu hari sepulang Jo dari wawancara pekerjaan, ia tertidur dalam kereta api dan bermimpi tentang seorang bocah kurus berkacamata. Darisitulah ide menulis Harry Potter dengan segala dunia sihirnya muncul. Namun tak lama kemudian ibunya meninggal. Kenyataan pahit ini kemudian membuatnya berfikir ulang untuk berprofesi sebagai penulis. Proses menulis novel Harry Potter pun terhenti karena Jo kemudian lebih memilih pindah ke Portugal demi mengejar karir sebagai pengajar. Disana Jo bertemu dan kemudian menikah dengan Jorge Arentes. Sayang, ketika baru dikaruniai seorang anak, rumah tangga mereka harus kandas dan menyebabkan Jo harus pulang kembali ke Skotlandia dalam keadaan yang sangat miris: janda beranak satu dengan uang pas-pasan ditangan, tanpa pekerjaan maupun tempat tinggal. Disaat terburuk dalam hidupnya inilah, hanya dua hal yang membuat Jo tegar: anaknya Jessica, dan berlembar-lembar draft novel Harry Potter yang selalu mengingatkannya akan impiannya menjadi seorang penulis.

Magic Beyond Words – The JK Rowling Story bercerita dengan gaya yang personal, menyoroti jatuh bangunnya kehidupan seorang JK Rowling dan berbagai hal yang menjadi sumber insiprasinya dalam membangun dunia Harry Potter. Sehingga, tidak heran jika film ini dipenuhi dengan detail-detail yang tersusun rapi dan akurat. Sayangnya, pada paruh awal film, detail-detail tersebut terasa sedikit dipaksakan. Lihatlah bagaimana pemilihan beberapa pemain pada menit-menit awal yang berparas serupa dengan tokoh-tokoh dalam novel Harry Potter. Patti Allan yang berperan sebagai Mrs. Morgan, guru SD Jo berparas dan berakting layaknya Maggie Smith ketika memerankan Prof. McGonaggal dalam film Harry Potter. Begitu juga dengan Wesley McInnes yang berperan sebagai Sean Harris amat mirip dengan penggambaran karakter Ron Weasley lengkap dengan mobil Ford Anglia biru mudanya. Kemiripan tersebut tentu saja untuk menunjukan bahwa tokoh-tokoh tersebutlah yang menjadi sumber inspirasi Jo ketika menciptakan karakter McGonaggal dan Ron dalam novel Harry Potter. Namun, sayangnya detail ini tidak dieksekusi dengan baik sehingga terasa sangat gamblang dan tidak kreatif. Kemunculan para pemain yang mirip dengan tokoh dalam dunia Harry Potter terasa seperti tempelan karena mereka tidak banyak membantu dalam proses pembangunan cerita, dan seakan ada hanya untuk memenuhi premis “tokoh A dalam dunia Harry Potter ternyata terinspirasi dari si B dalam hidup JK Rowling” saja.

Untunglah pada paruh berikutnya film mengalir halus dan mulai nikmat untuk diikuti, seiring dengan pergerakan cerita yang semakin berfokus pada lika-liku kehidupan Jo. Tidak ada lagi kemiripan tokoh yang menjemukan, dan sebagai gantinya film menyajikan kita lanskap Portugal yang eksotis dengan gang-gang sempit, pub malam dan rumah susun; tempat-tempat dimana kisah cinta Jo dengan Jorge terajut dan juga kandas. Film pun semakin bertambah menarik ketika Jo kembali ke Skotlandia sebagai single parent dan merajut kembali impiannya sebagai penulis. Proses penulisan novel Harry Potter pun kembali disuguhkan, namun kali ini dengan cara yang segar, imajinatif dan menarik. Kita akan dibuat tersenyum melihat bagaimana Jo mendapatkan ide untuk membangun dunia sihir miliknya. Hal-hal kecil seperti melihat permainan catur dapat ia olah menjadi sesuatu yang menarik untuk novelnya. Bagi Anda yang menyukai dunia Harry Potter seperti saya, Anda akan dibuat tersenyum ketika melihat sketsa awal trio Harry, Ron, Hermione dan Dumbledore sang kepala sekolah sihir Hogwarts yang Jo gambar disela-sela kesibukannya mengajar di sekolah.


Dari departemen akting, applause diberikan kepada Poppy Montgomery yang mampu tampil apik dan hampir tanpa cela disepanjang film dalam menggambarkan sosok Jo. Terlepas dari parasnya yang memang mirip dengan Jo, Montgomery pun mampu menampilkan Jo dengan segala emosi, rasa ketidakamanan (insecurities) dan keadaanya psikisnya yang tidak stabil ketika diterpa segala problematika hidup. Montgomery mampu menampilkan itu semua lewat bahasa tubuh dan ekspresi wajahnya yang membuat penonton kadang terlupa bahwa yang mereka tonton bukanlah JK Rowling. Aktris lain juga tampil sama baiknya adalah Janet Kidder yang berperan sebagai Anne Rowling, ibu Jo. Kidder mampu menarik simpati penonton bukan dengan mengumbar rasa sakit murahan karena menderita penyakit berat yang kala itu tidak dapat disembuhkan, namun dengan ketegaran dan kehangatan seorang ibu yang luar biasa. Hal ini yang lantas menginspirasi Jo untuk tetap kuat seberapa sulit pun hidupnya, dan kemudian “ditularkan” kepada karakter Harry Potter yang ditulisnya. Antonio Cupo sebagai Jorge Arentes pun mampu tampil mengesankan sebagai suami yang kasar dan tempramental.

After all, Magic Beyond Words – The JK Rowling Story memang suguhan spesial bagi Anda penggemar dunia sihir Harry Potter. Namun tidak lantas film ini menjadi tidak menarik bagi penonton umum. Kisah Jo yang tetap menulis dalam kondisi apapun, hingga akhirnya berhasil mendapatkan agen dan penerbit yang bersedia menerbitkan novelnya dan untuk pertama kalinya melihat novel Harry Potter berjejer memenuhi rak-rak toko buku akan menjadi kisah yang inspiratif bagi siapa saja, terlepas apakah Anda penggemar Harry Potter atau tidak. Ditambah dengan beberapa footage JK Rowling ketika beliau menghadiri pemutaran perdana film Harry Potter and the Sorcerer’s Stone maupun book-signing di awal dan akhir film, Magic Beyond Words – The JK Rowling Story menjadi film yang sayang untuk dilewatkan begitu saja.


Filed under British film Magic Beyond Words - The JK Rowling Story Poppy Montgomery adaptation biopic review uk JK Rowling Paul A. Kaufman Jeffrey Berman Tony Caballero Sean Smith Janet Kidder Antonio Cupo Emily Holmes Andy Maton Wesley McInnes Patti Allan harry potter related Harry Potter

1 note

Review: Jane Eyre (2011)

Jane Eyre | Sutradara: Cary Fukunaga | Penulis Skrip: Moira Buffini | Pemain: Mia Wasikowska, Michael Fassbender, Jamie Bell, Judi Dench, Sally Hawkins, Craig Roberts, Freya Parks, Romy Settbon Moore | Tahun: 2011 | Negara: UK | Rating: 3 out of 5 stars.

Jane Eyre merupakan salah satu karya literatur Inggris yang cukup terkenal. Ditulis oleh Charlotte Bronte pada tahun 1847, sudah tak terhitung lagi berapa kali novel ini dicetak ulang dalam berbagai versi. Begitupun dengan adaptasi kedalam media audio visual. Adaptasi yang paling anyar adalah produksi BBC tahun 2006 dan yang disutradarai Cary Fukunaga tahun ini. Untuk membuat adaptasi versinya, Fukunaga menggandeng pemain yang sudah punya nama seperti Mia Wasikowska (Alice in Wonderland, The Kids Are Alright), Michael Fassbender (300, Fish Tank, Inglourious Basterds, X-Men: First Class) dan Jamie Bell (Billy Elliot, Jumper, King Kong) dan beberapa pemain terkenal lainnya.

Saya menonton Jane Eyre versi Fukunanga ini setelah menikmati indahnya kata-kata Bronte dalam novelnya dan juga menonton adaptasi versi BBC yang menampilkan akting apik Ruth Wilson dan Toby Stephens. Sehingga, wajar rasanya saya menonton film ini dengan background knowledge sebagai pembaca dan penonton dengan ekspektasi yang tinggi dilihat dari jajaran pemain yang sudah punya nama dibanding para pemain dalam adapatasi versi BBC. Jadi maafkan saya jika dalam penulisan review ini, saya menyebutkan sedikit perbandingan film ini dengan versi novel maupun versi BBC.

Mia Wasikowska sebagai Jane Eyre, seorang gadis yatim piatu yang sejak kecil tidak pernah merasakan apa itu namanya bahagia. Tak lama setelah diasuh pamannya yang akhirnya meninggal, Jane Eyre diasuh oleh bibinya, Mrs. Reed (Hawkins) dan tinggal bersama sepupu-sepupunya. Seperti sudah diduga, bibi dan para sepupunya tidak memperlakukan Jane dengan baik. Ia selalu dikambinghitamkan dalam segala permasalahan. Hingga akhirnya Jane dikirim ke sebuah sekolah bernama Lowood. Dan tidak, tidak seperti Harry Potter yang menemukan kebahagiaan di Hogwarts, Jane pun tidak bahagia di Lowood akibat disiplin sekolah tersebut yang teramat ketat, ditambah lagi sahabat satu-satunya di sekolah tersebut, Helen Burns (Parks) pun meninggal.

Ketika lulus dari Lowood, Jane tetap tinggal dan bekerja sebagai guru. Hingga suatu hari, ia diterima sebagai governess (guru privat) seorang anak bernama Adele Varens (Moore). Pekerjaannya tersebut mengharuskannya menetap di rumah Adele, yaitu Thornfield Hall, bersama ayah angkat Adele, Mr. Rochester (Fassbender) dan kepala penjaga rumah, Mrs. Fairfax (Dench). Di rumah inilah Jane Eyre mulai mengenal kebahagiaan yang tumbuh dari rasa kebebasan, rasa dihargai dan juga dari benih-benih cinta yang tumbuh kepada Rochester yang tua, menyebalkan, namun juga menaruh hati padanya. Hanya satu yang menganggunya, kejadian-kejadian aneh kerap muncul di rumah tersebut yang ternyata penyebabnya tak pernah sekalipun terbayangkan olehnya.

Jane Eyre bukanlah cerita horor berlatarkan rumah tua yang seram, walaupun Fukunaga sepertinya mati-matian membuat film ini terasa seperti itu. Hal ini konstan dirasakan penonton semenjak awal hingga akhir film, dilihat dari dua tone warna yang konsisten dipakai Fukunaga: pucat yang mendominasi untuk menggambarkan suasana Thornfield yang tak menyenangkan dan gelap untuk membangun aura horror. Setting tempat yang mendukung konsep ini tentu saja gedung-gedung tua yang minim warna, hutan liar yang kelam, batuan-batuan besar dan pekarangan rumah dengan warna hijau pucat. Scoring pun dibuat gahar untuk meningkatkan tensi pada adengan yang berpotensi horor, dan dibuat menyayat-yayat hati untuk dramatisasi cerita.

Pada suatu wawancara dengan Collider.com, Fukunaga menjelaskan keputusannya untuk mengadaptasi Jane Eyre yang hanya berselang 5 tahun sebelumnya sudah diadapatasi BBC, terlebih karena kini ia melihat Jane Eyre sebagai suatu kisah cinta dari Bronte yang mengandung sisi gelap yang berpotensi untuk digali. Ya, inilah yang kemudian saya rasakan ketika menonton, karena Jane Eyre di dalam layar Fukunaga memanglah hanya sekedar kisah cinta dengan aura yang gelap. Mengapa saya katakan sekedar? Karena saya pribadi melihat ada hal lain yang sesungguhnya ditawarkan oleh kisah Jane Eyre.

Pertama, kisah Jane Eyre mengandung semangat feminisme. Feminisme disini bukan dalam artian sempit penyetaraan kedudukan antara wanita dan pria saja, tapi utamanya bagaimana menjadi seorang wanita yang kuat, terdidik, dan berani ketika kita hidup di lingkungan yang meng-diskredit-kan kita dan juga patriatikal ala Inggris abad ke-19. Karakter Jane Eyre dalam novel adalah karakter yang bisa menjadi tonggak bagi dirinya sendiri. Ini yang saya lihat tidak ditransformasikan dengan baik melalui skrip maupun akting Mia. Mia telah sebisa mungkin menyajikan Jane yang sederhana dan berwajah plain, dan bahkan terlihat “galak” dibeberapa adegan, namun skrip seperti tidak mengizinkannya berbuat lebih.

Kedua, karakter Jane Eyre memperlihatkan penonton bahwa jiwa manusia sebenarnya begitu kompleks, dimana segala tindakan manusia akan suatu hal sering didasari oleh alam bawah sadar, keinginan-keinginan terpendam, mimpi-mimpi atau bahkan kenangan maupun trauma masa kecil (dikenal dengan kajian psikoanalisis). Dalam novel maupun versi BBC terdapat beberapa adegan yang menunjukan psikoanalisis Jane Eyre melalui lukisan-lukisan yang dibuatnya, kenangan dan impiannya tentang kebahagiaan yang selalu terhubung dengan Rochester. Dalam versi Fukunaga, adegan-adegan yang menunjukan sisi psikoanalisis Jane Eyre ini hanya terlihat pada satu-dua adegan. Sehingga, esensinya tak tereksplor dengan baik dan terkesan hanya selipan belaka. Hal ini berdampak besar pada karakterisasi Jane, yang, seperti tergambar pada novel dan versi BBC, selalu terombang-ambing antara perasaannya, masa lalu, dan masa kini yang ia hadapi.



Dengan jajaran pemain yang sudah punya nama, para tokoh dalam Jane Eyre sepertinya mengalami sedikit pergeseran. Fassbender adalah Rochester yang sangat menyebalkan, sangar, misterius, namun kehilangan kesan sebagai pria tua yang juga rapuh akibat masa lalu yang kelam. Jika dibandingkan dengan akting Toby Stephens dalam versi BBC, akting Fassbender terasa jauh dibawahnya. Chemistry antara Fassbender dan Mia pun bisa dikatakan datar. Akting mereka tidak buruk, namun saya tak melihat adanya rasa ketertarikan dan keterikatan yang besar antara Fassbender dan Mia ketika mereka berada dalam satu layar. Beda halnya dengan chemistry yang dibangun Wilson dan Stephens pada versi BBC yang akan membuat Anda gemas, menyimpulkan senyum, dan berkaca-kaca. Pemeran lain seperti Judi Dench (yang biasa kita kenal sebagai Agent M dalam beberapa sekuel James Bond 007) berperan sebagai Mrs. Fairfax dengan baik, begitu juga dengan Sally Hawkins (Happy-Go-Lucky, Never Let Me Go, Submarine) sebagai Mrs. Reed, walaupun tidak diberikan porsi yang besar.

Karakter St. John lumayan tergali dan tak terasa seperti karakter tempelan berkat akting Jamie Bell yang baik dan juga perubahan alur cerita menjadi flashback. Perubahan alur ini juga menjadi pembeda antara versi Fukunaga dengan versi Jane Eyre lainnya. Di luar kontribusi akan perkembangan karakter St. John, perubahan alur ini sebetulnya tidak memberikan perubahan yang signifikan dalam pengembangan cerita. Alur hanya benar-benar dibalik dari titik tengah cerita, dan kemudian dilanjutkan hingga akhir.

Akhirnya, tanpa esensi feminisme dan psikoanalisis yang terkenal dalam studi-studi sastra untuk membedah kisah Jane Eyre, film ini hanyalah sebuah kisah cinta yang dibuat kelam, suram dan muram. Sangat disayangkan tak terlihatnya karakter Jane Eyre sebagai heroine bagi dirinya sendiri, yang mampu menantang takdir kehidupan yang seakan tidak memberikannya opsi untuk bahagia, maupun juga sisi psikoanalis Jane Eyre yang nikmat dicermati melalui segala mimpi dan keinginannya. Terlepas dari segi gory-nya, Fukunaga menjadikan Jane Eyre terasa seperti cliché si miskin bertemu si kaya, dibumbui dengan berbagai konflik dan twist, namun akhirnya bersama juga.


Filed under 3.0/5 stars Cary Fukunaga Charlotte Bronte Craig Roberts Jane Eyre Judi Dench Mia Wasikowska Michael Fassbender Moira Buffini Romy Settborn Moore Sally Hawkins adaptation jamie bell review period film

4 notes

Review: Little Ashes (Masa Muda dan Keresahan Salvador Dali Sang Pelukis Spanyol)

Little Ashes | Sutradara: Paul Morrison | Penulis Skrip: Philippa Goslett | Pemain: Robert Pattinson, Javier Beltran, Matthew McNulty, Marina Gatell | Tahun: 2008 | Negara: UK, Spanyol | Rating: 2.5 out of 5 stars.


Entah mengapa, saya selalu penasaran dengan proyek film dari aktor atau aktris muda kenamaan diluar film-film blockbuster yang melambungkan nama mereka. Rasa penasaran ini membuat saya melahap beberapa film indie atau film-film berbudget rendah dan diproduksi oleh studio yang tidak besar. Ingin rasanya saya melihat bagaimana para aktor & aktris muda menggali kemampuan akting mereka dan melepaskan diri dari karakter-karakter yang melekat di diri mereka selama ini di mata penonton. Setelah melihat Kristen Stewart dalam film-film indie seperti Into The Wild (2007), The Yellow Handkerchief (2008), Adventureland (2009), Welcome To The Rileys (2010) dan The Runaways (2010); lalu Daniel Radcliffe dalam December Boys (2007), My Boy Jack (2007); dan Rupert Grint dalam Driving Lesson (2006), Cherrybomb (2009), Wild Target (2010); pilihan saya selanjutnya adalah Robert Pattinson (selanjutnya akan disebut dengan nama tenarnya, RPatz). Tidak banyak film yang dibintangi RPatz yang saya tonton selain Twilight Saga (yang entah kenapa selalu saya tonton) dan tentu saja Harry Potter and the Goblet of Fire dengan peran Cedric Diggory yang melambungkan namanya. Tahun lalu saya dibuat tertegun oleh RPatz yang berperan sebagai musisi yang haus kasih sayang dalam film How To Be (2008). Little Ashes yang saya akan ulas ini pun tak kalah mencengangkannya.

Dalam Little Ashes RPatz berperan sebagai Salvador Dali, pelukis kenamaan Spanyol yang dikenal luas dengan gayanya yang surealis dan dandanan yang nyentrik. Little Ashes menyoroti Dali tentang masa mudanya, tentang keresahannya dan segala hal yang menginspirasinya akan karya-karyanya. Untuk melakukan semua itu, Little Ashes membawa kita ke Madrid sekitaran tahun 1920-an, masa dimulainya jaman modern, dimana keadaan sosial masyarakat sangat terpengaruh oleh musik jazz, pemikiran Sigmund Freud dan filsuf–filsuf seangkatannya; singkatnya segalanya ketika itu serba avant-garde. Di masa ini, Dali masih seorang mahasiswa seni rupa di sebuah universitas ternama, Academia de San Fernando. Saat menjadi mahasiswa baru, penampilan Dali terbilang cukup nyentrik (kalau tidak bisa dibilang konyol). Tidak seperti pemuda lain yang berpakaian serba necis dengan setelan jas, dasi kupu-kupu dan rambut mengilat, Dali tampil aneh dengan potongan rambut bob (yang mengingatkan saya pada perannya sebagai Art dalam How To Be), pakaian yang berenda-renda dan dengan pembawaan yang pemalu dan kaku. Namun keanehan Dali ini, ditambah kepandaiannya melukis, rupanya menarik minat dua pemuda kampus tenar, seorang sutradara Luis Bunel (McNulty), penyair Federico Garcia Lorca (Beltran) dan kekasihnya Magdalena (Gatell), untuk berteman dengannya. Lambat laun, Dali masuk dalam kehidupan mahasiswa elit kampus dengan kegiatan nonkrong di bar, mabuk, sembari membicarakan modernitas dalam deklamasi puisi yang kala itu biasa dilakukan. Lambat laun pula Dali menyadari ada sesuatu yang spesial antara dirinya dan Federico. Hubungan yang panjang, rumit dan menyakitkan.

Ya, film yang judulnya diambil dari nama salah satu lukisan karya Dali ini memang mengangkat tema homoseksual. Tema yang selalu mengundang kontroversi ini, di lain hal membutuhkan kinerja ekstra para pemainnya dan juga sang sutradara dalam usaha memberikan visualisasi hubungan sesama jenis tersebut agar tidak terkesan corny dan dibuat-buat. Tugas berat yang saya rasa mampu dijalankan dengan baik oleh Paul Morrison yang berhasil mengisi layarnya dengan adengan-adengan homoseksual yang, walaupun menjenggahkan mata penonton, namun natural dan terasa nyata. RPatz dan Beltran pun patut diacungi jempol untuk akting mereka yang mampu menghadirkan chemistry yang nyata diantara keduanya, walaupun sungguh unreal rasanya melihat RPatz mampu menciptakan chemistry semacam itu dengan laki-laki ketika kita sudah biasa melihatnya bermesraan dengan Kristen Stewart dalam film-film Twilight.

Dalam proses penceritaannya, Little Ashes menawarkan skrip yang menarik. Pada menit-menit awal film, penonton dibuat tersenyum menyaksikan penampilan konyol Dali, segala usahanya untuk menarik perhatian dan beradaptasi dengan kehidupan kampus. Namun ketika film mulai memperkenalkan keresahan para karakternya, alur cerita masuk dan menggulirkan percikan-percikan asmara antara Dali dan Federico.Uniknya, pada paruh kedua, film seakan berbagi sudut pandang diantara dua karakter utama. Walaupun voice-over disepanjang cerita dilakukan oleh Dali, pada paruh kedua ini film banyak disorot dari sudut pandang Federico. Film seakan berganti fokus mencermati pikiran Federico dan pengembangan karakternya. Javier Beltran memerankan Federico dengan apik, kita bisa melihat Federico yang flamboyan jika sedang bersama Dali, namun juga sangat kharismatik ketika ia tampil sendiri dalam layar. Penampilan pemeran pendukung seperti Mariana Gatell yang termasuk “berani” dan Matthew McNulty juga terbilang baik untuk mendukung penceritaan.

Satu-satunya nilai minus Little Ashes justru terletak pada idealisme Morrison yang ingin menyampaikan banyak hal dalam film ini: keliaran pemikiran, keresahan, pencarian jati diri, seks, seni, politik, cinta, dan persahabatan berselang seling dan tidak melebur, malah menjadikan film ini kehilangan fokus. Mosrisson seakan ingin melontarkan begitu saja apa yang terjadi pada masa muda Dali tanpa ada satu benang merah yang jelas sebagai pengangan penonton untuk menikmati film ini. Alhasil, sampai sekarang saya masih mempertanyakan apakah tujuan utama Morisson membuat film ini. Untuk menceritakan kepada penonton apa saja yang menjadi inspirasi karya-karya seorang Salvador Dali dengan mengeksplor masa mudanya yg kelam dan cukup menyiksa? Kalau benar seperti itu, rasanya ia tidak sukses melakukannya, karena seingat saya hanya ada tiga lukisan karya Dali yang tertangkap kamera, pun hanya satu lukisan, yaitu lukisan Little Ashes, yang dijelaskan relevansinya terhadap cerita.

Selain itu, pencapaian visualisasi oleh sinematografer Adam Suschitzky dalam film ini terbilang cukup baik. Sebagai ganti hubungan sesama jenis Dali - Federico yang cukup meresahkan saya sebagai penonton, kita dapat menikmati kota Madrid yang begitu avant-garde. Warna – warna pastel yang mendominasi pakaian, dekor ruangan maupun gedung gedung kota Madrid. Film juga menyelipi beberapa footage dari tahun 20an dan keindahan alam pedasaan Andalusia. Perhatikanlah adengan di danau ketika setting waktu menunjukan bulan sedang purnama. Percikan-percikan air danau yang memantulkan cahaya bulan terlihat sangat indah. Bagi saya, ini pencapaian visualisai paling indah sepanjang film ini yang akan terus menempel dalam ingatan sehabis menonton.

After all, Little Ashes merupakan sebuah tontonan yang memberikan perjalanan unik yang mencengangkan tentang masa lalu seorang Salvador Dali pelukis kenamaan Spanyol. Film ini juga memberikan kita ending yang menarik, dimana seperti pada awal film, penonton kembali “dipaksa” untuk dapat bersimpati pada tokoh Dali yang miris dan obsesif namun dengan rambut dan kumis yang menggelikan.


Filed under British actor British film Javier Beltran Marina Gatell Matthew McNulty Paul Morrison Philippa Goslett Robert Pattinson Salvador Dali Spanyol biopic review uk 2.5/5 stars

0 notes

Review: Gulliver’s Travels

Gulliver’s Travels | Sutradara: Rob Letterman | Penulis Skrip: Joe Stillman, Nicholas Stoller dan Jonathan Swift (buku) | Pemain: Jack Black, Amanda Peet, Jason Segel, Chris O’Dowd, Emily Blunt | Tahun: 2010 | Negara: USA | Rating: 3 out of 5 stars.

Ah, sudah begitu banyak film Hollywood yang merupakan adaptasi dari karya-karya besar literatur. Kemarin kita “dibombardir” Disney dengan serangkaian film adaptasi seperti The Princess and The Frog, Rapunzel (Tangled) , dan Gnomeo & Juliet . Lalu apa bedanya film-film tersebut dengan Gulliver’s Travels?

Bukan animasi musikal, itulah bedanya. Dan Jack Black. Gulliver’s Travels punya Jack Black untuk memerankan sosok Gulliver dan menjadi daya jual utama. Jangan, jangan lantas bayangkan Jack Black disulap menjadi Lemuel Gulliver yang seorang dokter bedah merangkap kapten kapal terkenal nan gagah berani mengarungi samudra seperti karakter asli Gulliver dalam buku-buku literatur Inggris. Gulliver ala Jack Black, yang merupakan karakter hasil duet penulis Joe Stillman dan Nicholas Stoller, adalah seorang pegawai rendahan yang pemalas di suatu kantor majalah. Gulliver yang tambun ini dikisahkan menyukai atasannya bernama Darcy Silverman (Peet). Untunk menarik perhatian Darcy, Gulliver terpaksa berbohong dan berkelana mengarungi Segitiga Bermuda. Dan seperti yang sudah kita ketahui, alih-alih mengarungi segitga yang angker itu, kapal Gulliver hancur lebur dan terdampar di pulau liliput. Di pulau inilah petualangan Gulliver dibuat sekocak dan sekomikal mungkin: menjadi pahlawan negeri liliput, bermusuhan dengan General Edward (O’Dowd), bersahabat dengan Horatio (Segel), dan membantu Horatio meraih hati putri raja Liliput, Princess Mary (Blunt).

Saya menyempatkan diri membaca komik Gulliver’s Travels yang menceritakan kisah asli sebelum menonton film ini. Saya ingin tahu bagian mana sajakah yang diutak- atik oleh Stillman dan Stoller. Dari hasil perbandingan komik dan film ini ternyata yaa memang hampir semua elemen dalam kisah klasik “di-modern-kan” dan disesuaikan dengan lawakan khas Jack Black. Untuk Anda yang menggemari film-film seperti Year One dan Nacho Libre mungkin akan dibuat terpingkal sejadi-jadinya. Saya saja yang tidak begitu menyukai lawakan dalam film-film Black tersebut ikut terbahak pada beberapa adegan film ini. Stillman dan Stoller sukses membuat karya klasik Gulliver’s Travels menjadi tontonan yang fun, ringan dan enak dinikamti di kala senggang.

Sebenarnya yang membuat saja tertarik untuk menyaksikan film ini adalah karena dua aktor yang membintangi serial-serial televisi favorit saya (Segel membintangi How I Met Your Mother dan O’Dowd bermain dalam The IT Crowd) bergabung dalam jajaran pemain film ini. Alhasil, lawakan yang melibatkan kedua aktor ini terasa sedikit How I Met Your Mother dan juga sedikit The IT Crowd. Para bintang lain tampil cukup menghibur, walaupun tidak sedominan Black , Segel, dan O’Dowd. Blunt tampil sebagaimana ia tampil dalam film Wild Target: cantik namun a bit awkward and quirky. Peet yang telah lama tidak saya lihat di layar lebar (terakhir dalam film A Lot Like Love bersama Aston Kutcher dan 2012) tidak menonjol dalam film ini, dan sepertinya kita dapat melihat tanda-tanda penuaan di wajahnya.

Selain cerita, tidak ada lagi yang istimewa dari Gulliver’s Travels. Pun teknologi yang digunakan juga sepertinya biasa-biasa saja. Membuat dunia yang mini dan para pemainnya terlihat seukuran liliput, pastilah bukan hal yang begitu sulit dilakukan untuk ukuran film sekelas Hollywood begini. Ya, lagi-lagi Jack Black lah yang menjadi andalan dan nilai jual utama dalam film ini.

Filed under 2010 3.0/5 stars Amanda Peet Chris O'Dowd Gulliver's Travels Jack Black Jason Segel USA adaptation emily blunt review comedy review

0 notes

Review: Blue Valentine

Blue Valentine | Sutradara: Derek Cianfrance | Penulis Skrip: Joey Curtis | Pemain: Ryan Gosling, Michelle Williams, Faith Wladyka | Tahun: 2010 | Negara: USA | Rating: 3.5 out of 5 stars.

Cindy (Williams) yang telah memiliki kekasih bertemu dengan Dean (Gosling) seorang petugas jasa angkut barang di sebuah panti jompo. Entah bagaimana, seketika itu juga Dean jatuh cinta pada Cindy. Dean kemudian berusaha mendekati Cindy, dan akhirnya pun Cindy luluh padanya. Terciptalah sebuah cinta yang bergelora diantara mereka. Namun itu enam tahun lalu, saat cinta dengan mudahnya menyentuh jiwa pasangan ini.

Kira-kira itulah yang dapat kita tangkap dari begitu banyaknya kilas balik yang ditampilkan dalam Blue Valentine. Film ini membuka layarnya dan memperkenalkan kita pada pasangan Cindy dan Dean justru ketika cinta sudah tak lagi mereka rasakan. Cindy dan Dean kini adalah dua pribadi yang sama sekali berbeda. Dean yang berjiwa bebas kini seorang pemabuk dan tidak bekerja, sedangkan Cindy adalah seorang perawat di rumah sakit yang berpandangan ke depan. Lalu ada Frankie (Wladyka) di tengah-tengah mereka, gadis cilik nan cantik anak semata wayang mereka. Yang tidak ada dalam keluarga ini hanyalah cinta antara istri dan suami.

Blue Valentine adalah film yang mempunyai alur cerita yang unik. Seperti yang sudah saya sebutkan diatas, film ini menyediakan begitu banyaknya kilas balik untuk kita cermati. Uniknya, adegan masa kini dan adegan kilas balik berkelindan satu sama lain dengan tempo dan ritme yang sama. Alur cerita menyajikan kontras, paradoks, dan ironi masa kini dan masa lalu dengan sepadan. Awal bertemu dimasa lalu ditampilkan setelah adengan ketidakharmonisan pasangan ini di masa sekarang, adegan saling memadu kasih dimasa lalu diikuti dengan adegan saling meneriakan makian di masa kini. Momen sedih dan senang timbul tenggelam. Alur cerita yang unik seperti ini tentu saja akan membuat perasaan Anda bercampur aduk.

Dari segi kualitas berperan, akting Ryan Gosling dan Michelle William tak perlu ditanyakan lagi. Total dan intim, mungkin kata yang tepat untuk mendefinisikan apa yang mereka sajikan di layar. Ya, dibeberapa bagian keintiman mereka terasa terlalu dalam, vulgar, dan menyesakkan. Namun, hal ini sepertinya dilakukan Gosling dan Williams agar sebisa mungkin menampilkan kejujuran dari pasangan yang tak lagi dapat merasakan cinta yang mereka rasakan dulu. Dengan plot utama menyajikan usaha Dean untuk menciptakan kembali percikan cinta diantara ia dan Cindy dalam kurun waktu sehari semalam, dibalut dengan keintiman akting mereka, penonoton seperti disuguhkan sebuah rekaman dari kehidupan asli sebuah pasangan muda. Inilah yang membuat Blue Valentine membekas di hati saya.

Blue Valentine seakan ingin mengingatkan kita bahwa cinta bisa menghampiri dengan tiba-tiba dan dapat hilang juga tak kalah tiba-tibanya. Untuk menunjukan hal ini, sampai credit title muncul, penonton tidak diberikan jawaban atas mengapa dan bagaimana cinta Dean dan Cindy berdua bisa hilang begitu saja. Apakah kira-kira yang terjadi selama rentang 6 tahun tersebut? Apa yang membuat mereka berubah? Film ini seperti tidak peduli pada proses itu, hanya ingin menekankan betapa ironisnya kenyataan bahwa cinta itu sudah tiada, jika kita menilik kembali lembaran-lembaran lalu ketika cinta baru saja ditemukan. Blue Valentine seperti ingin bercerita pada kita, cinta itu datang yaa datang saja, dan hilang yaa hilang saja.


PS: Jangan buru-buru mematikan DVD Anda ketika credit title muncul di layar. Dean & Cindy punya foto-foto masa bahagia mereka yang bisa dibagi kepada Anda, dalam suasana cinta menggelora seperti kembang api.

Filed under Blue Valentine 2010 Ryan Gosling Michelle Williams USA 3.5/5stars drama review

0 notes

Sinema Perancis 2011: Of Gods And Men (Review)

Sepertinya sudah menjadi kebiasaan buruk baru saya untuk menulis review film yang sempat saya tonton di suatu festival film lamaaaaaaaaa setelah festival film itu sendiri berakhir. Maafkan untuk kemalasan dan ketidak-konsistensi-an saya dalam mengelola blog film yang mungkin paling tidak aktif dibanding blog film lainnya ini.

Festival film yang saya maksud diatas adalah Festival Sinema Perancis yang digelar di Jakarta 8 – 16 April lalu. Festival film tahunan yang khusus memanjakan penontonnya dengan suguhan film-film Frankofoni ini digelar di dua venue pemutaran: FX Platinum XXI dan Blitzmegaplex Grand Indonesia. Sama seperti Sejarah Adalah Sekarang, tahun ini adalah kali pertama saya berkesempatan “mencicipi” film yang disuguhkan dalam festival ini. Sayangnya hanya satu film yang sempat saya saksikan yaitu Of Gods and Men. Pun tak mungkin terjadi jika saya tidak beruntung memenangi tiket film ini dari movie blogger Database Film. Selanjutnya, Festival Sinema Perancis masih akan terus berkeliling ke beberapa kota lainnya di Indonesia, seperti Bandung (Empire XXI: 30 April - 1Mei), Yogyakarta (Empire XXI: 23 - 24 April), Surabaya (Sutos: 30 April - 1 Mei), dan Denpasar (Galeria XXI: 23 - 24 April). Jika Anda berdomisili di kota-kota tersebut, sempatkanlah datang ke venue pemutaran dan nikmati film–film dari negeri anggur yang tentunya punya “cita rasa” berbeda dari, let say, film Hollywood, misalnya.

Of Gods and Men (Des Hommes Et Des Dieux) | Sutradara: Xavier Beauvois | Penulis Skrip: Xavier Beauvois, Etienne Comar | Pemain: Lambert Wilson, Michael Lonsdale, Olivier Labourdin | Tahun: 2010 | Negara: Perancis | Rating: 2.5 out of 5 stars

Tak heran jika film ini ditempatkan sebagai film penutup Festival Sinema Perancis tahun ini. Lihat saja deretan nominasi penghargaan yang disandangnya. Film ini membawa pulang piala Prize of Ecumenical Jury pada ajang Cannes tahun lalu dan mendapat nominasi dalam kategori Film Non-Bahasa Inggris Terbaik di ajang Bafta Award tahun ini. Dari sini kita mungkin dapat menduga bahwa ini adalah film yang “berat” dan membutuhkan tenaga ekstra untuk dicerna, seperti tipikal film pemenang penghargaan pada umumnya. Lalu “seberat” apakah film yang konon dibuat berdasarkan kisah nyata kehidupan para biarawan di daerah Thibrine ini?

Ber-setting di daerah pegunungan Algeria, film ini mengisahkan sekelompok biarawan yang hidup berdampingan dengan umat muslim yang menjadi kaum mayoritas. Para biarawan tersebut adalah Brother Christian (Wilson), Luc (Lonsdale), Christophe (Rabourdin), Célestin (Philippe Laudenbach), Amédée (Jacques Herlin), Jean-Pierre (Loïc Pichon) dan Michel (Xavier Maly). Mereka menetap di pemukiman tersebut dan mendirikan sebuah biara yang didalamnya terdapat klinik layanan kesehatan sosial bagi penduduk setempat, siapapun dia, tanpa memandang agama yang dianutnya. Keadaan ini membentuk suatu kehidupan yang harmonis antara para biarawan dengan mayoritas penduduk muslim. Namun keharmonisan antar umat beragama yang berbingkai toleransi dan saling menghormati ini sayangnya harus dirusak oleh ulah sekelompok Islam radikal yang datang dan membunuh siapapun yang mereka anggap musuh. Mulailah terjadi perpecahan dan perang batin diantara para biarawan. Pilihannya adalah tetap tinggal dan mengabdi kepada warga, atau meninggalkan pemukiman tersebut dan hidup nyaman kembali ke Perancis.

Of Gods and Men menyoroti konflik yang sedang terjadi dari mata para biarawan. Penonton digiring masuk dalam keseharian mereka, mengikuti cara mereka melakukan puji-pujian kepada Sang Pencipta, merasakan konflik batin yang didasari oleh keresahan dan ketakutan yang dialami para biarawan tersebut. Inilah yang mungkin yang membuat film terasa berjalan begitu lambat, begitu pelan. Cara bercerita film ini menitikberatkan kepada ekspresi rohaniah para biarawan tersebut dengan Sang Pencipta. Masalah 1 datang, berdoa. Muncul masalah 2, berdoa. Masalah 3 datang, berdoa. Cara bercerita yang seperti ini yang kemudian membuat saya sebagai penonton bertanya-tanya “Mau diarahkan kemana film ini? Ke arah film rohanikah? Untuk suatu agama tertentukah?” Pertanyaan tersebut mungkin tidak perlu ada jika premis dikemas dalam bentuk yang tidak menggiring penonton untuk terlalu dalam masuk ke sisi rohani para biarawan tersebut.

Peran utama dalam film ini adalah Brother Christian yang menjadi pemimpin para biarawan. Ia digambarkan sebagai seorang biarawan yang sangat menghargai perbedaan dalam beragama. Tak jarang kitab suci umat Islam, Al-qur’an, menjadi salah satu dari tumpukan buku yang ia baca dikala senggang. Kata ‘inshaallah’ yang khas bercirikan Islam pun acapakali keluar dari mulutnya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam beberapa adegan digambarkan Brother Christian dan pemuka agama Islam saling melepaskan “jubah” keagamaan mereka masing-masing dan berdialog bukan tentang agama mereka, namun sebagai warga sipil yang prihatin terhadap kondisi sosial yang sedang terjadi.

Karakter Brother Christian dimainkan dengan sangat apik oleh Lambert Wilson, aktor yang saya kenal melalui perannya sebagai Manu yang homoseksual dalam film Baby Love / Comme Les Autres (saya menulis review film tersebut dalam bahasa Inggris disini). Uniknya, walaupun karakter Manu berbeda 180 derajat dengan Brother Christian, namun rasanya saya dapat menarik satu garis lurus antara kedua karakter tersebut. Manu dan Brother Christian sama-sama karakter protagonis yang berusaha sebisa mungkin untuk menjadi bijak dalam berkata, befikir, maupun bertindak, tidak mementingkan ego sendiri, dan tidak ingin siapapun disekitarnya tersakiti. Mungkin tipe karakter seperti inilah yang dikuasai Wilson dalam film-film yang ia bintangi.



Selain Christian, para biarawan lainnya sayangnya terkesan hanya menjadi tempelan untuk memoles premis yang ada. Hanya Brother Christophe (Rabourdin) mungkin yang diberikan porsi yang cukup untuk ikut “bercerita”. Jika Christian adalah tipikal biarawan yang bijak hingga bisa dikatakan hampir mendekati “manusia suci”, karakter Chirstophe memberikan warna dalam film ini melalui pergulatan dan konflik batin yang ia alami. Cristophe adalah karakter yang mewakili sifat dasar manusia – terlepas dari ia seorang biarawan atau tidak – takut akan kematian. Christophe, menurut saya, adalah sebuah ketegasan yang ingin ditonjolkan oleh film ini bahwa biarawan pada dasarnya hanyalah manusia biasa. Bahwa walaupun mereka sudah mendedikasikan seluruh hidup mereka di jalan Tuhan, kematian tetaplah menjadi suatu hal yang mengundang kecemasan dan kegelisahan.

Hal lain yang perlu dicatat, Of Gods And Men adalah film yang tidak sungkan menampilkan adegan berdarah. Adegan-adegan pembantaian selalu menyuguhkan mayat bergelimpangan disertai darah yang mengucur deras. Hal ini mungkin dimaksudkan untuk membuat penonton “berjengit” ketika melihatnya. Namun karena ini bukan film horor / thriller yang sajian utamanya adalah darah dan pembunuhan, adegan berdarah tersebut justru menganggu kenikmatan menonton, dan saya rasa tidak perlu ditampilkan sebegitunya.

Oh ya, dan satu hal lagi. Tanpa bermaksud spoiler dalam tulisan ini dan jika memang saya tidak salah dengar, Of Gods And Men berbagi musik yang sama dengan Black Swan. Ingatkah Anda akan adegan paruh akhir film ketika karakter Nina Sayers berubah menjadi Black Swan? Adegan tersebut terasa begitu hidup akibat totalitas akting Natalie Portman berbalut visualisasi yang indah dan diiringi musik yang begitu menggetarkan. Musik itulah yang juga dipakai oleh Of Gods and Men untuk menghidupkan suatu adegan dimana para biarawan sedang menikmati makan malam, sambil bersenda gurau penuh cita dan bahagia (saya rasa adegan ini merujuk kepada Perjamuan Terakhir, maafkan jika saya salah). Adegan yang sederhana ini sangat indah; dengan extreme zoom ke arah wajah masing-masing biarawan, kamera menyediakan porsi yang cukup besar bagi mereka untuk “bercerita” hanya melalui ekspresi wajah mereka.

After all, Of Gods And Men tidaklah “seberat” yang saya bayangkan pertama kali. Visualisasi dari premis yang sederhanalah yang membuat film ini terasa “berat”. Diluar itu, film menyadarkan kita bahwa bagaimana keharmonisan yang indah antar kehidupan umat beragama itu bukan hanya mimpi belaka kok; it’s not too good to be true. Namun film ini juga mengingatkan kita bahwa keharmonisan tersebut seringkali harus terkoyak-koyak ketika ada pihak yang tak lagi mengindahkan rasa saling menghormati dan toleransi. Hal serupa yang acapkali terjadi di negeri ini.

Filed under 2011 Sinema Perancis French Film festival Lambert Wilson 2010 review 2.5/5 stars

1 note

Review: Gnomeo & Juliet

Director: Kelly Asbury; Penulis Skrip: William Shakespeare, Kelly Asbury, Mark Burton, Kevin Cecil, Emily Cook, Kathy Greenberg, Andy Riley, Steve Hamilton Shaw, John R. Smith, dan Rob Sprackling; Pemain: James McAvoy dan Emily Blunt; Rating: 3 out of 5 stars; Tahun: 2011.

Mari beri sambutan untuk satu-satunya film yang saya tonton di bioskop pada bulan Maret 2010 ini. Ya, setelah gagal menonton The King’s Speech di layar lebar karena tugas kuliah yang tiba-tiba membludak saat itu, hanya film ini yang kemudian menarik minat saya untuk datang ke bioskop. Terima kasih sedalam-dalamnya saya ucapkan kepada Bea Cukai maupun Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata atas lambatnya memutuskan sikap berkaitan dengan regulasi ajaib berupa kenaikan pajak film sehingga MPAA ngambek & meng-cancel sejumlah film Hollywood yang harusnya nangkring di bioskop-bioskop tanah air. Mari kita doakan saja supaya janji pemerintah untuk memutuskan sikap tanggal 30 nanti benar2 terjadi dan menghasilkan keputusan yang baik, yang tidak akan menyengsarakan para pecinta film, mempermalukan nama Indonesia di kancah perfilman internasional dan menyuburkan bisnis pembajakan film. Amin.

Walaupun film animasi keluarga, Gnomeo & Juliet sudah masuk daftar-film-harus-nonton saya sejak awal tahun ini. Alasannya simple, saya haus akan berbagai karya para sastrawan besar Inggris yang dibawakan dengan ringan dan modern. Itulah juga sebabnya saya suka Gulliver’s Travels yang tayang tahun lalu. Saya menikmati bagaimana para filmmaker sekarang menginterpretasi karya yang “serius” itu menjadi ringan dengan gaya bercerita sendiri. Yah, walaupun film-film seperti ini tidak menawarkan kita sesuatu yang baru karena berdasar kepada cerita aslinya.

Begitupun film ‘Gnomeo & Juliet’ ini. Dengan mengganti kata ‘Romeo’ menjadi ‘Gnomeo’, film ini tentu tidak bermaksud “menyembunyikan” dasar cerita yang mengacu pada kisah klasik Romeo & Juliet karya pujangga besar Shakespeare itu. Perubahan huruf ‘R’ menjadi ‘Gn’ untuk menunjukan bahwa film adaptasi ini adalah film animasi dengan jajaran para pemainnya yang bukan manusia, melainkan sejumlah jembalang penghias pekarangan rumah (dalam bahasa Inggris: gnome).

Ya, keluarga gangster yang saling bermusuhan dalam film Romeo + Juliet (1996) itu kini diwakili oleh para jembalang yang terbagi dua keluarga, keluarga jembalang Lord Redbrick (Michael Caine) yang bertopi merah dan tinggal di pekarangan Mr. Capulet (Richard Wilson) dan keluarga jembalang Lady Bluebury (Maggie Smith) yang bertopi biru dan tinggal di halaman rumah Ms. Montague (Julie Walters). Kedua keluarga jembalang ini suka menyerang pekarangan satu sama lain, mengakibatkan para pemilik pekarangan rumah pun saling salah paham dan juga bermusuhan. Seperti yang sudah diduga, remaja dari kedua belah kubu jembalang pun saling jatuh cinta. Juliet (Blunt) yang merah menaruh hati pada Gnomeo (McAvoy) yang biru. Mereka pun memulai perjuangan cinta terlarang antar ras para jembalang itu.

Apa yang paling kita ingat dan selalu ditunggu dari cerita Romeo & Juliet? Endingnya, bukan? Ending yang sedih dan memilukan itu memang menjadi penutup yang membuat penonton berkaca-kaca dan membuat kisah ini selalu diingat sepanjang masa. Walaupun hal ini sepertinya disadari betul oleh para penulis naskah film ini, namun Gnome & Juliet tidak serta merta berfokus pada endingnya saja. Film ini sangat concern kepada petualangan cinta yang Gnomeo & Juliet yang dibuat begitu konyol dan “khas” jembalang. Mulai dari cara bersolek jembalang yang hanya perlu disikat saja, sikap freeze ketika ada manusia, hingga pemotong rumput yang menjadi senjata sekaligus kebanggaan masing-masing ras jembalang. Uniknya, ada satu adegan ketika Gnomeo menyusup ke pekarangan tempat Juliet tinggal dan hampir kepergok oleh Lord Redbrick, apa yang Gnomeo lakukan? Bersembunyi sambil menahan napas di dalam kolam. Persis seperti adegan yang dilakukan Leonardo DiCaprio sebagai Romeo dalam Romeo + Juliet, bedanya Romeo beradegan di kolam renang sedang Gnomeo di kolam ikan. :)

Jika dilihat dari para pengisi suara, Gnomeo & Juliet memang film animasi bertabur bintang. Selain yang sudah disebutkan diatas, bergabung juga Jason Statham sebagai pengisi suara Tybalt si jembalang merah yang bengal, Ozzy Osbourne sebagai Fawn si jembalang Kanguru, Bill Hogan sebagai Terrafirminator, Patrick Stewart sebagai Bill Shakespeare dan Lady Gaga sebagai Stefani Germanotta yang ikut pula bernyanyi dalam lagu berjudul ‘Hello Hello’ bersama Elton John yang didapuk untuk mengerjakan musik di sepanjang film ini.

After all, jalinan cerita para jembalang yang cukup menghasilkan gelak tawa (walau memang, di beberapa bagian terasa membosankan dan terlalu dipaksakan) ini terasa seperti oase yang berhasil menghibur para penikmat film yang lesu dan malas ke bioskop karena film-film yang ditawarkan kurang menarik. Dan untuk endingnya, film ini memberikan sesuatu yang beda dari karya aslinya, sesuatu yang bikin saya teriak dalam hati, “Yeah, eat that, Shakes!” ketika alunan musik nan riang menutup film ini.

Filed under Animasi Emily Blunt James McAvoy Julie Walters Maggie Smith Michael Caine adaptation musical review 3.0/5 stars

2 notes

Review Pendek Film-Film Panjang (November 2010 - Februari 2011) Part. 1

Is this thing on?

Holla, I’m back sodara-sodara. Well, sudah berbulan lamanya saya tidak mereview film. Dan hari ini sedang ada kesempatan. Saya lagi bengong-bengong bego di Excelso Duta Mall, Banjarmasin. Ceritanya ngopi-ngopi sore centil gitu. Tapi malah bosen sendiri dan ingat bahwa saya sudah nulis draft review yang rencananya akan di publish kalau sudah mencapai 28 review.

Tapi apa daya, saya pegal dan sudah lupa sebagian besar aspek-aspek penting yang ingin diulas dan disoroti dari sebuah film. Well, jadilah Review Pendek Film-Film Panjang Part.1 ini. Nanti akan ada Part. 2 (dan mungkin Part. 3 nya, karena masih ada 14 film lagi yang sudah tertulis tapi masih blepotan dan tersimpan di draft. More reviews are coming real soon.

Dan sesuai namanya, ini review pendek nan singkat, sehingga saya tidak menyertakan info film standar (sutradara, pemain, tahun rilis film, dan lain-lain), hanya cukup saya cantumkan judul dan rating yang saya rasa cocok untuk filmnya.

Berikut film-film yang saya nikmati dari November 2010 sampai pertengahan bulan Februari 2011:

1) Harry Potter and The Deathly Hallows Part. I : 5 out of 5 stars.
Don’t argue with me. I know, I know, at some point, film ini mempunyai beberapa kelemahan, sehingga tak mungkin rasanya ada mau yang memberi nilai sempurna untuk film ini. Ada kok, saya. Kelemahan-kelemahan yang banyak diperbincangkan orang, seperti taburan pemain bintang (Ralph Fiennes, Alan Rickman, Timothy Spall, Rhys Ifans, Bill Nighy) yang diberi porsi secuil dan terkesan hanya “tempelan”, ketidakmampuan David Yates (lagi-lagi) untuk memuaskan para penonton yang tidak membaca bukunya, dan tensi film yang naik-turunnya terasa kurang terjaga, tidak menjadi soal besar bagi saya. Satu-satunya persoalan adalah Warner Bros yang tak berperasaan main potong sana-sini beberapa scenes yang sangat krusial, sebut saya scene Harry dan Dudley yang harusnya sempat maaf-maafan. Tapi, c’mon, ini HARRY POTTER dan saya menghabiskan masa muda saya untuk melumat habis semua novelnya dan mengoleksi merchandise-nya. Visualisasi seperti apapun akan saya terima dengan apresiasi tinggi; maafkan untuk ketidakobejektifan saya ini.

On the bright side: Ron dalam film ini sungguh sungguh sungguh sungguh dieksplor karaternya. Saya suka. Setiap muncul dalam kamera, Rupert bagai magnet yang selalu menyedot perhatian penonton - memunculkan rasa sebal, kemudian gelak tawa, lalu simpati, dan sejenak melupakan Harry dengan segala kemelutnya. Setuju? Atau mungkin saya saja yang gampang “termagnet” olehnya? Well, elemen menarik lainnya: siapa yang bisa menyangkal tampilan Kisah Tiga Penyihir dalam animasi yang bergaya Tim Burton merupakan salah satu elemen yang paling memukau dalam film ini?

2) Unstoppable: 3.5 out of 5 stars.
Tensi film ini yang cepat namun terjaga, didukung sound yang baik dan ide cerita yang natural tentang meluncurnya kereta api tak berawak yang setiap saat dapat meledak di perumahan padat penduduk, membuat saya suka pada film ini. Sedikit drama menjadi latar belakang cerita ini yang, walaupun sangat minim, namun dipoles manis sehingga masih bisa dirasakan “gereget”nya.

3) Let Me In: 3.5 out of 5 stars.
Sewaktu film ini diputar dibioskop, timeline Twitter saya penuh review tentang betapa film ini bagus daripada versi aslinya, Let The Right One In. Dan karena saya belum menonton film aslinya yang dari Swedia itu, saya tidak bisa membandingkan. Namun Let Me In memang mempunyai rasa sendiri dari cerita vampir lain (yang pernah saya tonton).

Berjalan agak lambat dan mengambil setting saat musim salju tahun 1970an di suatu kota kecil, Let Me In akan menjadi thriller yang suram tanpa kehadiran dua remaja bintang utama, Chloe Moretz sebagai Abby Si Vampir dan Kodi Smit-McPhee sebagai Owen Si Korban Bully. Kedua remaja ini memukau saya dengan pembawaan akting yang luar biasa: Moretz kadang-menyeramkan-kadang-tampil-begitu-manis dan Kodi yang depresi namun simpatik. Menonton kisah mereka seperti menonton anak SMP yang baru pacaran.

Polos, lugu, namun tetap suram. Jalan cerita yang kuat dan mengundang rasa penasaran serta selipan beberapa dark humor membuat saya tidak jatuh tertidur. Yang jelas, kisah Abby-Owen jauh lebih seru daripada Bella-Edward. Believe me.

4) A Prophet (Un Prophete): 3 out of 5 stars.
Di paruh pertama, film Perancis ini berhasil mencuri perhatian saya. Malik El Djebena, seorang pemuda Arab yang menjadi narapidana di Perancis, harus membunuh seorang tahanan lain agar hidupnya sendiri terjamin dan bebas dari masalah selama di dalam sel. Sampai eksekusi pembunuhan itu sukses ia lakukan, ketertarikan saya untuk tetap menyimak film ini menurun drastis. Plot yang panjang dan lama dan banyaknya subplot yang menyusun struktur cerita terasa amat membosankan. Ya, saya sudah keburu terkesima disuguhkan dengan pergulatan konflik dan eksekusi pembunuhan yang dramatis di awal. Hal ini membuat saya merasa adegan-adegan seperti Malik belajar bahasa Arab, menjadi kaki tangan bos narapidana, sampai membangun dunia bisnis di luar sel sangat tidak menarik. Tentu saja hal tersebut merupakan proses pengembangan karakter Malik yang nantinya berdampak besar dan membantunya keluar dari cengkraman bos yang dulu, tapi haruskah selama dan sepelan itu plot berjalan?

Atau, mungkin saja film yang memenangkan BAFTA & British Independent Awards untuk Film Berbahasa Asing serta banyak dinominasikan di ajang Golden Globes dan Oscar, memang bukan jenis crime thriller yang saya sukai.

5) Rapunzel (Tangled): 3 out of 5 stars.
Disney kembali hadir membawa dongeng legendaris lainnya, Rapunzel yang entah mengapa diberi judul lain, Tangled. Seperti halnya Princess and The Frog, Rapunzel membawa khas sendiri sebagai animasi musikal dan menggandeng aktris sekaligus penyanyi yang sudah lama vakum, Mandy Moore. Ya, mungkin ini salah satu upaya Disney agar tidak dilupakan penonton ketika kita sudah begitu dipukau oleh Pixar dengan Up-nya.

Karakter kocak yang ditawarkan, seperti Maximus sang kuda istana berjiwa anjing pelacak dan Eugene si perampok sengak sukses mebuat gelak tawa. Well, walaupun bagus, kisah putri raja yang diculik karena memiliki ranbut panjang ajaib, yang saya rasa, cukup untuk digunakan sebagai hair extension 100 orang lebih ini masih belum sebaik, katakanlah, Toy Story 3. Hal ini sangat mungkin dikarenakan penyelesaian konflik yang ditunggu-tunggu kurang gereget sehingga kita seperti diarahkan saja menuju ending yang mudah ditebak dari awal.

6) 127 Hours: 5 out of 5 stars.
Setelah gila-gilaan di Pineapple Express dan mendapat peran singkat bersama Mila Kunis di Date Night, James Franco yang saya kenal pertama kali lewat perannya sebagai Harry Osborn di Spider-Man, memukau saya lewat 127 Hours. Dalam film yang diangkat dari kisah nyata ini, James berakting sebagai (Aron Ralston) seorang cayonner yang terjepit diantara bebatuan Grand Canyon di Utah. Melalui karakter pria pecinta alam ini, James mengajak kita merasakan kesendirian, keputusasaan, penyesalan dan keliaran imajinasi, cinta, ketegaran dan perjuangan untuk tetap bertahan hidup yang akhirnya mengungguli segalanya – semuanya jadi satu dalam 127 jam yang menyiksa sekaligus juga mengasyikan. Saya pun mendapati diri saya beraksi campur aduk: tersenyum, meringis, ngeri, terbahak hingga akhirnya bersorak-sorai. James Franco benar-benar menampilkan akting yang berkualitas.

Beberapa aktris dan aktor mengisi adegan flash back, memori dan imajinasi Aron Ralston. Salah satunya adalah yang paling mencuri perhatian adalah model asal Perancis, Clemence Poesy. Poesy yang dikenal luas setelah berakting sebagai Fleur dalam seri Harry Potterdan sempat mengisi beberapa episode di Gossip Girl Season 4 ini, kebagian peran sebagai Rana, mantan kekasih Ralston yang bertengger kuat dalam memorinya. Peran ini singkat namun memorable dan lumayan berani.

127 Hours adalah film yang inspiratif dan ditangani oleh orang-orang handal dibelakangnya. Sutradara, penulis naskah, produser film ini adalah orang yang sama untuk film Slumdog Millionaire. Begitu juga dengan penata musiknya, A.R. Rahman yang mengemas 127 Hours dengan musik-musik yang catchy. Uniknya, di beberapa adengan ketika situasi bertambah parah dan menyebalkan, musik yang dipasang untuk mengiringi malah bertambah asyik. Penonton seakan diajak bersimpati terhadap situasi yang dialami Aron Ralston sambil menikmati irama lagu. Ah, brilliant!

7) Buried: 5 out of 5 stars.
Jika James Franco sebagai Aron Ralston ditengah kesendirian masih “berbagi layar” dengan berbagai aktris dan aktor lain untuk membangun cerita, tidak begitu halnya dengan Ryan Reynolds yang benar-benar one-man-show dalam Buried. Reynolds berperan sebagai Paul Conroy yang terbagun dari pingsan dan mendapati dirinya terkunci di dalam peti dan terkubur di tengah gurun pasir Afganistan. Ia hanya ditemani sebuah handphone, lighter, pisau kecil, pulpen dan barang-barang remeh temeh lainnya. Satu-satunya barang yang paling berguna mungkin adalah handphone, yang bisa ia gunakan untuk meminta bantuan kepada FBI maupun sanak keluarganya di US. Namun ternyata, alat itu pula lah yang menghubungkan dirinya dengan teroris yang mengurungnya dalam peti tersebut.

Seperti yang saya kemukakan tadi, Buried adalah sebuah one-man-show untuk Reynolds. Semua tokoh lain yang ada di dalam cerita (istri dan anak Paul, operator FBI, kepala departemen tempatnya bekerja, teroris, dll) hanya berperan lewat suara mereka di telefon. Buried hanya “membolehkan” Paul “berbagi layar” dengan rekan kerja wanitanya, itupun hanya divisualisasikan lewat adengan pemutaran video handphone. Selebihnya, penonton disuguhkan karakter demi karakter hanya lewat suara mereka. Ini bisa berakibat fatal, penonton bisa saja bosan disuguhkan layar yang hanya memperlihatkan sosok Paul dalam peti sepanjang durasi. Namun hebatnya, Buried jauh dari kata membosankan. Walaupun hanya lewat suara, semua karakter lain terasa sangat hidup dan memberi peran masing-masing dalam membangun cerita ini. Penampilan Reynolds pun, menurut saya, merupakan penampilan yang baik diantara semua filmnya yang pernah saya tonton (The Proposal, Adventureland). Tanpa aktingnya yang kuat, skrip yang menjaga rasa penasaran penonton tetap bergejolak, dan tentu saja lighting luar biasa, Buried tidak akan wara-wiri dalam berbagai nominasi penghargaan film sebergengsi Oscar, misalnya.

Siapapun yang sudah menonton film ini pasti ingat opening dan endingnya – dua-duanya cukup memorable. Menit-menit awal layar tak menampilkan apa-apa, hanya hitam pekat disertai suara napas Reynolds. Sedangkan endingnya akan membuat Anda sesak napas! Saya menonton film ini melalui DVD, namun sepertinya menonton film ini di bioskop feel akan lebih terasa. Well, saya tidak menyarankan untuk Anda yang phobia gelap maupun ruangan sempit.

8) Frozen: 3 out of 5 stars.
Masih film bergaya stranded-in-nowhere-and-desperately-need-some-help. Namun Frozen tidak seperti 127 Hours dan Buried yang mengutamakan peran tunggal dengan skrip yang luar biasa. Frozen cenderung tampil lebih mainstream dengan menyoroti kisah yang sudah lazim diangkat: beberapa anak muda bersenang-senang, namun akhirnya terjebak dalam keliaran alam. Shawn Ashmore (yang mukanya mirip boyband) berlibur bersama Emma Bell dan kekasihnya, Kevin Zegers (yang juga mirip boyband) ke sebuah permainan ski di pegunungan. Karena satu dan lain hal, pada malam hari mereka terjebak di ketinggian ketika chairlift mereka tiba-tiba berhenti dan tidak ada satupun orang lain untuk dimintai tolong. Klasik sebenarnya, namun tetap seru untuk disimak. Apalagi dengan ending cerita yang unpredictable, walaupun masih kurang “nendang”.
(Shawn Ashmore) sahabatnya, Parker O’Neil (Emma Bell), (Kevin Zegers)

9) The Yellow Handkerchief: 2.5 out of 5 stars
Kristen Stewart lagi-lagi berhasil membuat saya menonton film-film yang dibintanginya. Setelah The Runaway (baca reviewnya disini) dan Adventureland, kali ini atas saran seorang movie blogger di Twitter, saya menonton The Yellow Handkerchief. Katanya, dalam film-film indie dan non-mainstream begini, Kristen Stewart bisa tampil baik dan membuktikan dirinya mampu berakting bukan hanya sebagai gadis labil yang diperebutkan vampir dan werewolf dalam The Twilight Saga.

No offense, but I’m not a fan of Twilight series. Maafkan juga kalau paragraf ini mungkin akan menyinggung pecinta film seri ini. Saya menonton semua film Twilight, di bioskop pula. Saya sejujurnya menganggap bahwa sekuel pertama, Twilight, adalah film yang menarik. Namun semenjak New Moon dan Eclipse, saya datang ke bioskop dan menonton film tersebut hanya untuk menertawakannya. Bukan, saya bukan menertawakan dunia yang dibuat oleh Stephanie Mayer, yang konon merubah habis-habisan mitos antara vampire dengan werewolf. Yang saya tertawakan adalah percintaan mereka, bagaimana gadis labil yang tak habis-habisnya tejebak dalam cinta segitiga antara vampir bedakan dan werewolf yang baby face. Maafkan saya, tapi buat saya ini kocak. Hingga setiap kali saya keluar dari bioskop sehabis nonton seri tersebut saya selalu berharap karakter Bella yang diperankan Kristen itu seharusnya dibuat killed off saja pada ending seri pertama Twilight. Jika begitu mungkin semua karakter akan hidup aman sentosa dan mitos antara vampir dan werewolf tetap terjaga sebagaimana mestinya. Jika berbicara dalam bahasa pop culture, saya bukan Team Edward maupun Team Jacob, saya Team Pembunuh Bella.

Kristen jelas membuktikan ia ingin keluar dari bayang-bayang Bella dengan berperan sebagai Joan Jet dalam The Runaways. Namun saya tidak menangkap adanya peningkatan kualitas akting dalam dirinya. I mean, diluar cara berbicaranya dan potongan rambut yang berbeda; yang diingat penonton dari perannya hanyalah adegannya kissing nya dengan Dakota Fanning. Penampilannya dalam Adventureland bersama Ryan Reynolds dan Jesse Esseinberg pun juga tidak mengeksplor aktingnya. Dan di film The Yellow Handkerchief ini, sayangnya, saya merasa sama saja.

Ada yang berubah memang – atmosfir yang diberikan Kristen agak berbeda kali ini. Ia berperan sebagai Martine seorang remaja berbadan lentur dan dapat menari balet namun mempunyai daddy issues. Ia berpergian bersama Gordy (Eddie Radmayne), seorang nerd yang menyukainya dan Brett Hanson (William Hurt) yang baru keluar dari penjara. Ketiganya tidak saling mengenal satu sama lain; ketiganya mempunyai masalah yang berbeda. Saya sangat menyukai road movie yang diangkat dalam film ini dengan sangat santai, sangat laid back. Semua konflik seakan mengalir begitu saja, walau efeknya di beberapa bagian jadi terasa membosankan. Dalam perjalanan tersebut, Martine dan Gordy diajak merenung dan berkaca dari pengalaman hidup Brett Hanson yang, bukan hanya kelam, namun juga menyedihkan. Dari pengalaman Brett itulah Martine dan Gordy bisa belajar untuk jujur terhadap diri sendiri dalam menghadapi masalah mereka. Saya juga suka bagaimana ketiga karakter ended up menjadi sebuah figur tersendiri bagi satu sama lain.

Nonetheless, saya masih berharap Kristen dapat menampilkan sesuatu yang beda dan berkualitas. Saya baru membeli dvd Welcome To The Rileys, film yang juga dibintangi Kristen Stewart. Her upcoming film, On The Road, juga saya tunggu-tunggu, karena lagi-lagi Kristen bermain dalam road movie. Somehow, I’m still waiting for Kristen’s best performance.

10) Serigala Terakhir [Indonesia]: 3.5 out of 5 stars
Kembali duet Vino G Bastian dengan Upi Avianto. Kali ini bukan tema percintaan dalam kehidupan anak punk seperti dalam Radit Jani yang merupakan salah satu film Indonesia favorit saya. Serigala Terakhir mengangkat tema gangster, tema yang masih jarang di dunia film Indonesia. Setahu saya, film Indonesia lain yang mengangkat tema ini hanyalah In The Name of God, itupun lebih menekankan kepada percintaan ala Romeo & Juliet nya, sehingga “rasa” gangsternya kurang gereget. Well, kalaupun ada film Indo lain, rasanya belum ada film yang mengeksplor tema ini dengan baik dan tema ini jelas bukan termasuk tema yang klise dan pasaran.

Serigala Terakhir bercerita tentang 5 sahabat: Jarot (Vino), Ale (Fathir Muthar), Jago (Dallas Pratama), Sadat (Ali Syakieb), dan Lukman (Dion Wiyoko). Lima bersahabat ini setiap hari kerjanya bersenang – senang dan tukang onar, bisa dibilang “preman kampung” istilah yang tepat untuk mereka. Walaupun begitu mereka semua sudah seperti saudara sendiri, selalu bahu-membahu menyelesaikan masalah.

Persahabatan mereka teruji ketika terjadi keributan saat pertandingan sepakbola. Ale secara tidak sengaja membunuh salah seorang tim lawan yang sedang baku hantam dengan Jarot. Saat kepanikan melanda, semua orang lari tunggang langgang meninggalkan lapangan pertandingan, kecuali Jarot. Jarot lah yang kemudian dijadikan tersangka dan dipenjara akibat peristiwa tersebut.

Nah, kemana Ale dan 3 temannya yang lain? Mengapa mereka membiarkan Jarot yang menanggung semua beban dengan mendekam di penjara atas tindakan yang tidak ia lakukan? Upi rupanya tidak mau bersusah-susah menjelaskan ini kepada penonton. Elemen yang krusial dalam persahabatan mereka ini seakan terlewat begitu saja. Elemen ini yang, menurut saya, meruntuhkan konstruksi emosi diantara para karakternya yang sudah terbangun apik di awal.

Kehidupan Jarot dalam penjara seakan mengembil referensi Malik El Djebena dalam A Prophet (Un Prophete). Disinilah Jarot belajar menjadi tangguh, kuat, manipulatif, licik dan penuh dendam. Namun, eksekusi yang lemah, sayangnya, menjadikan bagian ini menjadi bagian yang biasa saja dan tidak capturing.

Film ini memang film keras. Banyak darah dan tembakan mengisi frame, sesuatu yang jarang terjadi, tentunya dalam dunia perfilman Indonesia. Uniknya, bukan Vino maupun Fathir Muthar yang menjadi “bintang” dalam ini. Yang bersinar dan menarik perhatian saya adalah Reza Pahlevi yang dengan apik berperan sebagai Fathir, pemuda bisu yang selalu terkucilkan. Bisunya Fathir tetap dapat menyampaikan dendam yang ia rasakan kepada orang-orang disekitarnya. Adegan Fathir menghabisi Sadat dan Lukman, sama memorable nya dengan adegan bloody dinner nya Fahri Albar dalam Pintu Terlarang: pelan, mencekam, darah bermuncratan, dan ekspresi kepuasan yang sangat dari sang pelakon pembunuhan. Superb.

Filed under 127 Hours A Prophet Buried Frozen Harry Potter and the Deathly Hallows Part.1 Let Me In Rapunzel (Tangled) Serigala Terakhir The Yellow Handkerchief Unstoppable kompilasi review review

4 notes

Eat, Pray, Love

Director: Ryan Murphy; Scriptwriter: Ryan Murphy & Jennifer Salt; Casts: Julia Roberts, Billy Crudup, James Franco, Luca Argentero, Richard Jenkins, Hadi Subiyanto, Christine Hakim, Xavier Bardem; Rating: 3 out of 5 stars; Country: USA, Italy, India, Indonesia; Year: 2010.

Eat, Pray, Love must be the most awaited movie for Indonesian this whole year. Since a third of the overall story taking place in Bali, the film has already had its special place in Indonesian’s heart. Almost all local cinemas provide night and day screening for the film. Don’t asking about the audience, they have been queueing for weeks. All of them get excited to see how Bali, the famous God’s Island which produces the biggest foreign exchange in the term of tourism for this country, will be pictured as a stop over of Elizabeth Gilbert’s a yearlong trip.

Well, since I’m Gleek, the only thing makes this film a must-see for me that it has Ryan Murphy as the director and the writer. :)

The film, based on Elizabeth’s best-seller biography novel Eat, Pray, Love, follows the story of Liz (Elizabeth herself, played by American sweetheart Julia Roberts) who realizes that her life and her marriage with Stephen (Billy Crudup) becoming more and more meaningless. I’m not really sure what makes her think like that. I mean, it is pretty good - a successful career checked, a husband checked, well, maybe a child? Anyway, she then decides to divorce her husband she’s no longer fallen in love with and tries a whole different direction to get her life meaningful: a longyear trip to Italy, India, Indonesia. Well, at this point, I think that the conflict is somehow overrated, isn’t it?

The film is surely not as simple as that. In between her take-off from New York to Italy, she hook up with an actor David Piccolo (James Franco) who introduces her the “new world” related to Hinduism: enchanting Sanskrits to get the peace of mind. This part of the film doesn’t last long but James Franco did a pretty good job. In his hand, the character of David succeededly growing from an underrated actor to charming lover that stuck in Liz’s head for months along her trip.

In Italy, nothing much happen other than Liz feeding herself with some spaghetti and pizzas. To be honest, it’s not that mouth-watering than I have imagined before. Most scenes feel like some commercial break for Italian food, only this time it’s in the big screen with a full zoom out of Julia’s mouth chawing, chawing and chawing. Besides, I notice some location used also in Letters to Juliet. But the thing I most remember from this part is the narrated Italian joke (which I’ll post later).

Be frankly, India is pictured so dreary, until the appearance of Richard from Texas (Richard Jenkins) breaks the boring scenes. I have to say, Richard gives his best performance and saves this entire gloomy India. He is one of the most inspiring and unforgettable characters the audience won’t forget about the film after they left the theater.

At the end, we have Bali as the last layover of Liz’s around-the-world trip. Bali, as always, offers its beauty with gorgeous beaches and rustic scenery. Yet, I have to thank God this part is not like some FTV (an Indonesian TV program for romantic comedy, often filmed in Bali). Bali has some surprises for Liz: the funniest medicine man Ketut Liyer (Hadi Subiyanto), an inspiring widowed medicine woman Wayan (Christine Hakim) and a symphatetic widower Philippe (Xavier Bardem). With some comedy and some romance those qualified actors delivers in this part making it the most vibrant and enjoyed part of the movie. Well, at least for me, an Indonesian. :)

Filed under 2010 Billy Crudup Christine Hakim Eat Pray Love Hadi Subiyanto James Franco Julia Roberts Luca Argentero Richard Jenkins Ryan Murphy USA Xavier Bardem entertaining review 3/5 3/5 stars