Festival Film Eropa (Europe on Screen, disingkat EoS) selalu mempunyai tempat khusus di hati saya. EoS tahun ini menandakan kali kelima saya mengikuti festival film yang selalu diadakan menjelang akhir tahun ini. Pertama kali saya mengetahui adanya EoS pada 2007, ketika itu saya langsung tertarik akan konsep yang ditawarkan festival film ini. Tujuan EoS sangat simple, menyajikan Eropa di negara kita sendiri. Sehingga, alih-alih diselenggarakan di bioskop, pemutaran film diselengarakan di berbagai pusat kebudayaan Eropa yang tersebar di beberapa kota besar di Indonesia. Pusat-pusat kebudayan tersebut menjadi pintu gerbang para penonton dalam “merasakan” Eropa, memberikan atmosfir berbagai negara Eropa di kota sendiri sebelum menyaksikan film yang hendak ditonton. Walaupun ada tujuan promosi di dalamnya, EoS menegaskan keberadaan dan peran pusat-pusat kebudayaan Eropa di tengah kota-kota besar di Indonesia, selalu terbuka bagi siapapun yang tertarik akan budaya Eropa, seperti saya.
Ya, semenjak tahun 2007, saya mulai rajin berkeliling ke berbagai pusat kebudayan Eropa di Jakarta yang sebelumnya bahkan tidak pernah saya ketahui, demi memuaskan rasa penasaran akan cita rasa film Eropa. Kala itu, pusat kebudayan yang pertama kali saya datangi adalah Centra Culture de France (CCF) yang tahun ini berganti nama menjadi Institut Francais Indonesia (IFI). Pusat kebudayaan Perancis yang homey, nyaman, sederhana, dan mudah diakses dari berbagai daerah di Jakarta ini adalah tempat favorit saya saat maraton film EoS, walaupun venue pemutaran film yang disebut Cinematique terbilang kecil dan sempit dibanding venue pemutaran lainnya. Pusat kebudayaan German, Goethe Intitut atau Goethehaus (GH) mempunyai kelebihan ruang pemutaran yang besar dan terletak di pusat kota, walau akses angkutan umum terbatas, kecuali taksi atau mengendarai kendaraan pribadi. Instutito Italiano Di Cultura (IIC) lebih ditengah kota, walau venue pemutaran di pusat kebudayaan Italia ini terasa kurang nyaman, khususnya jika kita duduk di baris depan dengan bangku pantai yang terkesan santai namun tidak didesain untuk menonton film. Erasmus Huis (EH), pusat kebudayaan Belanda ini terletak di jalan protokol H.R. Rasuna Said dengan kapasitas bangku yang paling besar dibanding venue pemutaran lain dengan total 320 bangku. Dan jangan lupakan Kineforum, yang terlihat seperti sebuah studio XXI mini dengan 45 bangku, bertempat dibelakang XXI TIM, selalu menjadi tempat pemutaran film indipenden lokal, film Indonesia yang tayang terbatas, maupun film-film asing dari seluruh dunia yang tidak tayang reguler di bioskop ibukota. Selain menjadi satu-satunya venue pemutaran EoS yang bukan pusat kebudayaan, Kinforum juga telah bertahun-tahun mendukung festival film non-komersil, seperti Q! Film Festival maupun Bulan Film Nasional.

Komitmen EoS untuk tetap menyajikan film Eropa tanpa memungut biaya apapun memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siapapun, tanpa batasan kelas ekonomi maupun sosial. Penonton hanya harus belajar disiplin dan menghargai waktu, dengan peraturan pengambilan tiket dengan bangku free seated sekitar 30 menit sebelum pemutaran berlangsung. Uniknya lagi, EoS bukan hanya menjadi jembatan bagi penduduk lokal yang ingin “merasakan” Eropa, EoS juga menjadi jembatan antara penduduk lokal maupun warga asing untuk “mencicipi” cita rasa film lokal Indonesia dengan menyediakan wadah berupa EoS Short Film Competion yang menghadirkan film - film pendek karya filmmaker lokal yang mungkin tidak banyak dikenal karena bermain di ranah independen.
Pemutaran EoS Short Film Competition mengawali maraton EoS saya tahun ini. Film-film pendek yang ditayangkan datang dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang dan Padang Panjang. EoS Short Film Competition menyajikan sembilan film finalis dengan lingkup tema Old and Young, tema yang diusung EoS tahun ini. Pada ajang kompetisi ini, setiap film dapat dipilih penonton sebagai film terfavorit melalui kertas voting yang disediakan sebelum memasuki vanue pemutaran. Berikut review singkat saya mengenai kesembilan film tersebut.
Bermula Dari A | Sutradara: BW. Purba Negara | Penulis Skrip: BW. Purba Negara | Pemain: Natasya Putri Sastrosoemarto & Bagus Suitrawan | Durasi: 15 menit | Tahun: 2011 | Negara: Indonesia, Yogyakarta | Rating: 3,5 out of 5 stars.
Judulnya terasa pas untuk mengawali sekuen EoS Short Competition. Bermula Dari A, film yang menyabet piala Ladrang Award dengan predikat film terbaik dalam ajang Festival Film Solo 2011, dibuka dengan proses pembelajaran pelafalan huruf A. Pelakonnya sunguh tak biasa. Sang pengajar adalah gadis tuna netra berjilbab, sedangkan yang diajarinya melafalkan huruf A adalah seorang remaja pria tuna rungu (dan tuna wicara). Film berfokus pada kedua insan ini, dilihat dari dominasi shot close up dan medium close up di sepanjang film yang dengan sempurna menangkap eksperesi wajah masing-masing tokoh ketika mereka berinteraksi . Seiring berjalannya waktu, Bermula Dari A menggambarkan dunia kecil si gadis tuna netra dan remaja pria tuna rungu terasa manis> Lihatlah bagaimana kelebihan dan kekurangan masing-masing tokoh saling melengkapi ketika mereka melakukan aktivitas jual-beli kacamata baru untuk si gadis. Saya rasa pemilihan warna film yang hitam-putih, yang seakan mengambarkan dunia mereka yang tak penuh warna, dengan sendirinya terkontradiksi oleh manisnya adengan-adegan seperti ini. Film ini juga berusaha melepaskan diri dari aksesoris yang melekat pada kedua pemerannya. Sang gadis tak segan membuka ikatan jilbabnya sehingga lehernya terlihat dengan maksud agar si remaja pria dapat mempelajari bentuk tenggorokan ketika melafalkan kata ‘akbar’. Leher, dalam pengertian Islam merupakan termasuk aurat yang tak boleh dilihat lawan jenis, jika bukan muhrimnya.
Walaupun manis, premis dua anak manusia yang masing-masing memiliki keterbatasan fisik namun mencoba saling mengasihi ini tak lantas jatuh dalam ruang melankolis yang menguras simpati penonton. BW Purba Negara meramunya dengan baik, menyuguhkan kita cerita unik sehingga kisah kedua insan ini mengalir lembut dengan ending yang menyuguhkan twist yang mampu merombak konstruksi cliche dalam fikiran penonton pada umumnya.
======================================================================
Timun Mas | Sutradara: Gatya Pratiniyata | Animasi | Durasi: 3 menit | Tahun: 2009 | Negara: Indonesia, Bandung | Rating: 3 out of 5 stars.
Siapa yang tidak tahu kisah Timun Mas? Gatya Pratiniyata, sang sutradara, mencoba memvisualkan cerita rakyat dari tanah Jawa dalam bentuk animasi. Tidak ada perubahan cerita didalamya. Ceritanya tetap sama: Timun Mas yang lahir dari timun berwarna emas hasil perjanjian antara si ibu tua yang tak urung memiliki anak dengan raksasa hijau besar menyeramkan, Buto Ijo. Perjanjian itu mengharuskan sang ibu menyerahkan Timun Mas ketika ia sudah besar untuk menjadi santapan sang Buto Ijo. Karena tak rela, sang ibu meminta bantuan kepada seorang pertapa yang memberinya “kantung ajaib” yang berisi bumbu dapur, seperti garam, cabe merah, mentimun, dan terasi. Bumbu - bumbu dapur itu masing-masing memiliki kekuatan sehingga membantu Timun Mas lari dari kejaran Buto Ijo.
Dalam menuturkan Timun Mas, Gatya menyuguhkan animasi yang terbilang baik dan hidup. Tempo dibangun utamanya berkat sound effect dan narasi yang bertempo semakin lama semakin cepat, seakan sang narator ikut berlari bersama Timun Mas dari kejaran Buto Ijo. Usaha dan niat sang sutradara mengangkat kisah ini menjadi film animasi pendek membuat film ini diganjar gelar Film Terbaik di ajang Goelali Fest 2011 dan dinominasikan dalam kategori Film Pendek Terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2010.
======================================================================
Shelter | Sutradara: Ismael Basbeth | Durasi: 15 menit | Tahun: 2011 | Negara: Indonesia, Yogyakarta | Rating: 1.5 out of 5 stars.
Shelter merupakan film yang menggunakan teknik one shot, sehingga hanya ada 1 scene dan tidak ada pergerakan kamera di dalamnya. Film ini juga tidak memiliki dialog antar pemainnya. Lalu bagaimana Shelter dapat bercerita? Selama 15 menit, layar hanya berisi seorang gadis dengan rok pendek dan stocking tertidur di bangku belakang sebuah metro mini. Di atas paha si gadis, ada seorang laki-laki yang tidur dan kemudian bangun, dan mulai menciumi daerah - daerah yang mampu membangkitkan hasrat seksual sang gadis. Namun apa yang terjadi? Si gadis tetap asik tertidur, seakan tak peduli akan apa yang terjadi dan tak merasakan apa -apa.
Sesaat, saya kira film yang sempat ditayangkan pada Busan International Film Festival 2011 ini akan meneriakan keadaan sosial yang penuh kriminalitas dan tak lagi aman seperti yang sering terjadi belakangan ini (pemerkosaan di angkot, mahasiswi hilang, dan lain-lain). Namun tujuan Shelter ternyata jauh dari itu, dan lebih sederhana. Sangking sederhananya, pada detik berikutnya, saya sudah dapat menebak maksud dan ending film ini. Ditambah dengan teknik hand-held camera yang digunakan dengan maksud agar film tampak mengikuti pergerakan laju metro mini yang berjalan tidak stabil ini malah mengganggu dan menambah kejemuan ketika menyaksikan film ini.
======================================================================
Territorial Pissing | Sutradara: Jason Iskandar | Durasi: 7 menit | Tahun: 2010 | Negara: Indonesia, Jakarta | Rating: 2 out of 5 stars.
Territorial Pissing, yang merupakan Film Pendek Asia Terbaik di Jogja-Netpac Asian Film Festival 2010, bercerita tentang dua remaja tanggung yang sedang beristirahat ketika melakukan perjalanan ke luar kota menggunakan mobil pribadi. Sebelum kembali melanjutkan perjalanan, percakapan terjadi diantara mereka dan sekelilingnya. Premis yang sederhana bukan? Dengan premis sesingkat itu Territorial Pissing mencoba mengungkapkan konflik yang terjadi diantara dua remaja tadi dengan cara mengontraskan mereka dengan pajangan Mickey-Mini Mouse yang “berkendara” di atas dashboard mobil mereka. Hal ini dirasa efektif, walau tak memberi penonton apa-apa.
======================================================================
Gak Semudah Itu, Brur | Sutradara: Gundala | Durasi: 4 menit | Tahun: 2009 | Negara: Indonesia, Jakarta | Rating: 4.5 out of 5 stars.
Obrolan sore hari terjadi antara Bruri dan temannya Iyank. Suasananya santai, mereka berbincang mengenai persoalan hidup Bruri sambil menonton TV. Bruri merokok, Iyank membaca koran. Namun, tunggu, perhatikan gerak-gerik Bruri dan Iyank. Pergerakan mereka mundur ke belakang, walau acara TV dan denting jam terus maju kedepan. Asap hasil hisapan rokok Bruri bukanya terhembus ke udara, malah tertarik ke dalam mulutnya. Gundala sang sutradara mampu memberikan efek sinematografis yang baik demi menyokong ending yang mampu membuat penonton terbahak. Gak Semudah Itu, Brur memberikan saya pelajaran bahwa ucapan kita 5 menit yang lalu bisa jadi sangat kontradiktif dengan apa yang kita lakukan sekarang.
======================================================================
Nyanyian Para Pejuang Sunyi | Sutradara: Adriyanto Dewo | Pemain: Titi Sjuman dan Lola Amaria | Durasi: 8 menit | Tahun: 2010 | Negara: Indonesia, Jakarta | Rating: 2 out of 5 stars.
Lanskap sebuah dermaga di Hongkong, dengan pemain Titi Sjuman dan Lola Amaria. Apa yang ada di fikiran Anda? Sesaat, saya mengira film pendek ini semacam extended version dari film Minggu Pagi di Victoria Park. Tapi entahlah, sampai film selesai, tidak ada informasi mengenai hal itu. Kemungkinan itu ada karena selain bersetting di Hongkong, film ini memakai tokoh Wati dan Sri yang menjadi tokoh utama dalam Minggu Pagi di Victoria Park. Diceritakan disini Wati dan Sri yang merupakan pembantu rumah tangga asal Indonesia memainkan permainan sederhana, dimana yang menang dapat mengambil kantong belanja bulanan majikannya. Apa yang terjadi ketika salah satu isi dari belaja bulanan itu daging babi? Bisakah najisnya daging babi tersebut “dicuci” dengan cleanser cream yang juga terdapat di dalam kantung belanja tersebut? Film tanpa dialog ini berujung absurd, walau dengan sinematografi yang baik.
======================================================================
Angkot dan Cerita | Sutradara:Herryaldi Kurniawan | Dokumenter | Durasi: 11 menit | Tahun: 2011 | Negara: Indonesia, Padang Panjang | Rating: 2 out of 5 stars.
Dokumenter ini menyoalkan stiker yang menempel pada jendela -jendala angkutan umum di Padang Panjang . Perhatikanlah, begitu seringnya kita menemui striker bergambar bendera Britania Raya, Amerika, Jepang, dll. Ada juga lambang band - band tanah air seperti Slank, Iwan
Fals, Dewa, dan semacamnya. Beberapa ada yang bertuliskan ‘Losta Masta’ atau ‘Anak Nongkrong MTV’. Bermacam stiker itu rupanya dipilih berdasarkan selera sang supir ataupun pemilik angkot tersebut.
Cerita dibangun dari obrolan dua supir angkot yang bertugas sebagai narator. Dari pemilihan striker angkot, bergeser ke wacana bahwa sangat sedikit sekali angkot yg ditempeli stiker bendera Indonesia ataupun tulisan yang berbau nasionalisme. Lama kelamaan, diskusi semakin melebar sampai pada isu politik di negara - negara berkembang. Film yang menggunakan teknik zoom sampai extreme zoom ini, pada awalnya menarik, namun semakin lama semakin membosankan.
======================================================================
Black Journey | Sutradara: Astu Prasidya | Animasi | Durasi: 4 menit | Tahun: 2011 | Negara: Indonesia, Malang | Rating: 3 out of 5 stars.
Animasi kedua dari sekuen EoS Short Competition adalah Black Journey. Animasi ini menceritakan tentang perjalanan singkat yang miris dan kelam dari seekor anak burung yang belum lagi menetas dengan sempurna namun terjatuh dari pohon dan kini harus mencari induknya. Ia harus berkenala sampai ke kota, dimana ia menjadi korban paling nyata dari pemanasan global. Detail - detail yang ada dalam perjalanan sang anak burung mampu mengundang simpati. Klise, ingin mengingatkan kita akan bahaya pemanasan global namun dieksekusi dengan sangat menyentuh.
======================================================================
Emit | Sutradara: Sammaria Simanjuntak | Pemain: Sunny Soon | Durasi: 5 menit | Tahun: 2011 | Negara: Indonesia, Bandung | Rating: 3 out of 5 stars.
Sammaria Simanjuntak lagi - lagi memakai Sunny Soon dalam filmnya. Dan film ini pun, seperti Nyanyian Para Pejuang Sunyi yang mengingatkan saya akan Minggu Pagi di Victoria Park, Emit mengingatkan saya akan film Cin(t)a. Pertanyaan saya pun berulang, apakah film pendek ini semacam extended version dari film panjang yang sudah ada?
Layar dibuka dengan Sunny Soon yang seperti dalam film Cin(t)a, menggunakan simbolisasi jari yang digambari wajah saling berpeluk satu dengan yang lain. Dari awal hingga pertengahan film, kita disuguhkan Sunny Soon yang tersenyum riang ke arah kamera, seakan - akan yang merekamnya itu kekasih hatinya. Lalu ada simbolisasi satu jari yang menjauh dari jari yang lain, dan kemudian segalanya diulang seperti alur flashback hanya saja kini dengan wajah Sunny yang muram. Film ini seperti ingin menggambarkan kesedihan seorang lelaki yang ditinggal kekasihnya dan menyesal pernah melakukan apa yang mereka lakukan ketika masih bersama.
======================================================================
Dari kesembilan finalis EoS Short Competition, saya paling suka dengan Gak Semudah Itu, Brur. Film ini membuktikan bahwa dengan ide cerita yang simple dan eksekusi teknik visual yang tepat, empat menit adalah durasi yang cukup untuk menyuguhkan cerita yang menghibur dan penuh arti.
Baca juga:
Review Nowhere Boy (opening film for EoS 2011)
Review EoS Short Film Competition 2010 (SOIna, CINtA, Purnama di Pesisir, Your Phone Is Off The Hook)
Kompilasi Review EoS 2010 (Seven Billyard Tables, The World Is Big And Salvation Lurks Around The Corner, Soul Kitchen, Pains of Autumn, The Mystery of Sintra’s Road, Brideshead Revisited, dan Cosmonaut)