Me Love Movies.

Welcome To Movies In Words

2 notes

Kids, have I ever told you the story of how much I love ‘How I Met Your Mother’?

I do love it, very much. Yes, there’re some episodes that might be cheesy, boring, absurd (not in a good way), and just “too ewh” every once in a while, but to me most episodes were so inspiring, beyond hilarious, bittersweet, absurd (in a good way), and truely legendary. 

I spent nine years on this series. Nine years of awesomeness, I can say. It showed me how wonderful it is to have a faith in love, to always have a fun perspective on whatever life’s thrown at you, and to let yourself laugh your ass off, even on your bluest days.

But now that the series has finally come to an end, there’s one big fat disappointment: the series finale.

No, not because it has a sad ending. I would be more than happy to crack some tears for an awesome sad ending; I totally would. Carter Bays and Craig Thomas may think they have written a bittersweet ending. Bittersweet my ass. If there’s a word to describe the series finale, it’s only one word: LAME. It’s so effing lame that I’m really sure it would be a cultural reference to the word ‘lame’ for years to come. 

So, kids, please stop watching ‘How I Met Your Mother’ at episode 22 of season 9, and just pretend that it’s the series finale. Don’t ever bother to watch the episode 23 and 24. Trust me, it sucks, and it sucks so bad. It’ll ruin anything good you  remember from the series. 

Farewell now Theodore Evelyn Mosby, Barney wait-for-it Stinson, Robin Sparkles Scherbatsky, Judge Marshall Marshmallow Eriksen, and Lilypad Aldrin. You all served well, until Bays and Thomas ruined everything at the very last 44 minutes of the series.

.@mandapuspi, April 2, 2014.

Kids, have I ever told you the story of how much I love ‘How I Met Your Mother’?

I do love it, very much. Yes, there’re some episodes that might be cheesy, boring, absurd (not in a good way), and just “too ewh” every once in a while, but to me most episodes were so inspiring, beyond hilarious, bittersweet, absurd (in a good way), and truely legendary.

I spent nine years on this series. Nine years of awesomeness, I can say. It showed me how wonderful it is to have a faith in love, to always have a fun perspective on whatever life’s thrown at you, and to let yourself laugh your ass off, even on your bluest days.

But now that the series has finally come to an end, there’s one big fat disappointment: the series finale.

No, not because it has a sad ending. I would be more than happy to crack some tears for an awesome sad ending; I totally would. Carter Bays and Craig Thomas may think they have written a bittersweet ending. Bittersweet my ass. If there’s a word to describe the series finale, it’s only one word: LAME. It’s so effing lame that I’m really sure it would be a cultural reference to the word ‘lame’ for years to come.

So, kids, please stop watching ‘How I Met Your Mother’ at episode 22 of season 9, and just pretend that it’s the series finale. Don’t ever bother to watch the episode 23 and 24. Trust me, it sucks, and it sucks so bad. It’ll ruin anything good you remember from the series.

Farewell now Theodore Evelyn Mosby, Barney wait-for-it Stinson, Robin Sparkles Scherbatsky, Judge Marshall Marshmallow Eriksen, and Lilypad Aldrin. You all served well, until Bays and Thomas ruined everything at the very last 44 minutes of the series.

.@mandapuspi, April 2, 2014.

0 notes

adrkrist asked: thanks for the movie review. i'd really enjoy it :) and do you know where can i see 'Emit' movie by Sammaria S online? thanks :D

Heyya! You’re welcome, and thanks for reading my review. Yes, you can watch ‘Emit’ on
http://www.indonesianfilmcenter.com/pages/filmbox/filmbox.php?bid=3313&title=Emit%20(tanpa%20dialog)

Even better, you can watch other EoS short films, just log on to http://www.indonesianfilmcenter.com and type the short film you want. Happy watching! :)

6 notes

Europe on Screen 2011 dan Review Singkat EoS Short Film Competition (‘Bermula Dari A’, ‘Timun Mas’, ‘Shelter’, ‘Territorial Pissing’, ‘Ga Semudah Itu, Brur’, ‘Nyanyian Para Pejuang Sunyi’, ‘Black Journey’, dan ‘Emit’)

Festival Film Eropa (Europe on Screen, disingkat EoS) selalu mempunyai tempat khusus di hati saya. EoS tahun ini menandakan kali kelima saya mengikuti festival film yang selalu diadakan menjelang akhir tahun ini. Pertama kali saya mengetahui adanya EoS pada 2007, ketika itu saya langsung tertarik akan konsep yang ditawarkan festival film ini. Tujuan EoS sangat simple, menyajikan Eropa di negara kita sendiri. Sehingga, alih-alih diselenggarakan di bioskop, pemutaran film diselengarakan di berbagai pusat kebudayaan Eropa yang tersebar di beberapa kota besar di Indonesia. Pusat-pusat kebudayan tersebut menjadi pintu gerbang para penonton dalam “merasakan” Eropa, memberikan atmosfir berbagai negara Eropa di kota sendiri sebelum menyaksikan film yang hendak ditonton. Walaupun ada tujuan promosi di dalamnya, EoS menegaskan keberadaan dan peran pusat-pusat kebudayaan Eropa di tengah kota-kota besar di Indonesia, selalu terbuka bagi siapapun yang tertarik akan budaya Eropa, seperti saya.

Ya, semenjak tahun 2007, saya mulai rajin berkeliling ke berbagai pusat kebudayan Eropa di Jakarta yang sebelumnya bahkan tidak pernah saya ketahui, demi memuaskan rasa penasaran akan cita rasa film Eropa. Kala itu, pusat kebudayan yang pertama kali saya datangi adalah Centra Culture de France (CCF) yang tahun ini berganti nama menjadi Institut Francais Indonesia (IFI). Pusat kebudayaan Perancis yang homey, nyaman, sederhana, dan mudah diakses dari berbagai daerah di Jakarta ini adalah tempat favorit saya saat maraton film EoS, walaupun venue pemutaran film yang disebut Cinematique terbilang kecil dan sempit dibanding venue pemutaran lainnya. Pusat kebudayaan German, Goethe Intitut atau Goethehaus (GH) mempunyai kelebihan ruang pemutaran yang besar dan terletak di pusat kota, walau akses angkutan umum terbatas, kecuali taksi atau mengendarai kendaraan pribadi. Instutito Italiano Di Cultura (IIC) lebih ditengah kota, walau venue pemutaran di pusat kebudayaan Italia ini terasa kurang nyaman, khususnya jika kita duduk di baris depan dengan bangku pantai yang terkesan santai namun tidak didesain untuk menonton film. Erasmus Huis (EH), pusat kebudayaan Belanda ini terletak di jalan protokol H.R. Rasuna Said dengan kapasitas bangku yang paling besar dibanding venue pemutaran lain dengan total 320 bangku. Dan jangan lupakan Kineforum, yang terlihat seperti sebuah studio XXI mini dengan 45 bangku, bertempat dibelakang XXI TIM, selalu menjadi tempat pemutaran film indipenden lokal, film Indonesia yang tayang terbatas, maupun film-film asing dari seluruh dunia yang tidak tayang reguler di bioskop ibukota. Selain menjadi satu-satunya venue pemutaran EoS yang bukan pusat kebudayaan, Kinforum juga telah bertahun-tahun mendukung festival film non-komersil, seperti Q! Film Festival maupun Bulan Film Nasional.

Komitmen EoS untuk tetap menyajikan film Eropa tanpa memungut biaya apapun memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siapapun, tanpa batasan kelas ekonomi maupun sosial. Penonton hanya harus belajar disiplin dan menghargai waktu, dengan peraturan pengambilan tiket dengan bangku free seated sekitar 30 menit sebelum pemutaran berlangsung. Uniknya lagi, EoS bukan hanya menjadi jembatan bagi penduduk lokal yang ingin “merasakan” Eropa, EoS juga menjadi jembatan antara penduduk lokal maupun warga asing untuk “mencicipi” cita rasa film lokal Indonesia dengan menyediakan wadah berupa EoS Short Film Competion yang menghadirkan film - film pendek karya filmmaker lokal yang mungkin tidak banyak dikenal karena bermain di ranah independen.

Pemutaran EoS Short Film Competition mengawali maraton EoS saya tahun ini. Film-film pendek yang ditayangkan datang dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang dan Padang Panjang. EoS Short Film Competition menyajikan sembilan film finalis dengan lingkup tema Old and Young, tema yang diusung EoS tahun ini. Pada ajang kompetisi ini, setiap film dapat dipilih penonton sebagai film terfavorit melalui kertas voting yang disediakan sebelum memasuki vanue pemutaran. Berikut review singkat saya mengenai kesembilan film tersebut.

Bermula Dari A | Sutradara: BW. Purba Negara | Penulis Skrip: BW. Purba Negara | Pemain: Natasya Putri Sastrosoemarto & Bagus Suitrawan | Durasi: 15 menit | Tahun: 2011 | Negara: Indonesia, Yogyakarta | Rating: 3,5 out of 5 stars.

Judulnya terasa pas untuk mengawali sekuen EoS Short Competition. Bermula Dari A, film yang menyabet piala Ladrang Award dengan predikat film terbaik dalam ajang Festival Film Solo 2011, dibuka dengan proses pembelajaran pelafalan huruf A. Pelakonnya sunguh tak biasa. Sang pengajar adalah gadis tuna netra berjilbab, sedangkan yang diajarinya melafalkan huruf A adalah seorang remaja pria tuna rungu (dan tuna wicara). Film berfokus pada kedua insan ini, dilihat dari dominasi shot close up dan medium close up di sepanjang film yang dengan sempurna menangkap eksperesi wajah masing-masing tokoh ketika mereka berinteraksi . Seiring berjalannya waktu, Bermula Dari A menggambarkan dunia kecil si gadis tuna netra dan remaja pria tuna rungu terasa manis> Lihatlah bagaimana kelebihan dan kekurangan masing-masing tokoh saling melengkapi ketika mereka melakukan aktivitas jual-beli kacamata baru untuk si gadis. Saya rasa pemilihan warna film yang hitam-putih, yang seakan mengambarkan dunia mereka yang tak penuh warna, dengan sendirinya terkontradiksi oleh manisnya adengan-adegan seperti ini. Film ini juga berusaha melepaskan diri dari aksesoris yang melekat pada kedua pemerannya. Sang gadis tak segan membuka ikatan jilbabnya sehingga lehernya terlihat dengan maksud agar si remaja pria dapat mempelajari bentuk tenggorokan ketika melafalkan kata ‘akbar’. Leher, dalam pengertian Islam merupakan termasuk aurat yang tak boleh dilihat lawan jenis, jika bukan muhrimnya.

Walaupun manis, premis dua anak manusia yang masing-masing memiliki keterbatasan fisik namun mencoba saling mengasihi ini tak lantas jatuh dalam ruang melankolis yang menguras simpati penonton. BW Purba Negara meramunya dengan baik, menyuguhkan kita cerita unik sehingga kisah kedua insan ini mengalir lembut dengan ending yang menyuguhkan twist yang mampu merombak konstruksi cliche dalam fikiran penonton pada umumnya.

======================================================================
Timun Mas | Sutradara: Gatya Pratiniyata | Animasi | Durasi: 3 menit | Tahun: 2009 | Negara: Indonesia, Bandung | Rating: 3 out of 5 stars.

Siapa yang tidak tahu kisah Timun Mas? Gatya Pratiniyata, sang sutradara, mencoba memvisualkan cerita rakyat dari tanah Jawa dalam bentuk animasi. Tidak ada perubahan cerita didalamya. Ceritanya tetap sama: Timun Mas yang lahir dari timun berwarna emas hasil perjanjian antara si ibu tua yang tak urung memiliki anak dengan raksasa hijau besar menyeramkan, Buto Ijo. Perjanjian itu mengharuskan sang ibu menyerahkan Timun Mas ketika ia sudah besar untuk menjadi santapan sang Buto Ijo. Karena tak rela, sang ibu meminta bantuan kepada seorang pertapa yang memberinya “kantung ajaib” yang berisi bumbu dapur, seperti garam, cabe merah, mentimun, dan terasi. Bumbu - bumbu dapur itu masing-masing memiliki kekuatan sehingga membantu Timun Mas lari dari kejaran Buto Ijo.

Dalam menuturkan Timun Mas, Gatya menyuguhkan animasi yang terbilang baik dan hidup. Tempo dibangun utamanya berkat sound effect dan narasi yang bertempo semakin lama semakin cepat, seakan sang narator ikut berlari bersama Timun Mas dari kejaran Buto Ijo. Usaha dan niat sang sutradara mengangkat kisah ini menjadi film animasi pendek membuat film ini diganjar gelar Film Terbaik di ajang Goelali Fest 2011 dan dinominasikan dalam kategori Film Pendek Terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2010.

======================================================================

Shelter | Sutradara: Ismael Basbeth | Durasi: 15 menit | Tahun: 2011 | Negara: Indonesia, Yogyakarta | Rating: 1.5 out of 5 stars.

Shelter merupakan film yang menggunakan teknik one shot, sehingga hanya ada 1 scene dan tidak ada pergerakan kamera di dalamnya. Film ini juga tidak memiliki dialog antar pemainnya. Lalu bagaimana Shelter dapat bercerita? Selama 15 menit, layar hanya berisi seorang gadis dengan rok pendek dan stocking tertidur di bangku belakang sebuah metro mini. Di atas paha si gadis, ada seorang laki-laki yang tidur dan kemudian bangun, dan mulai menciumi daerah - daerah yang mampu membangkitkan hasrat seksual sang gadis. Namun apa yang terjadi? Si gadis tetap asik tertidur, seakan tak peduli akan apa yang terjadi dan tak merasakan apa -apa.

Sesaat, saya kira film yang sempat ditayangkan pada Busan International Film Festival 2011 ini akan meneriakan keadaan sosial yang penuh kriminalitas dan tak lagi aman seperti yang sering terjadi belakangan ini (pemerkosaan di angkot, mahasiswi hilang, dan lain-lain). Namun tujuan Shelter ternyata jauh dari itu, dan lebih sederhana. Sangking sederhananya, pada detik berikutnya, saya sudah dapat menebak maksud dan ending film ini. Ditambah dengan teknik hand-held camera yang digunakan dengan maksud agar film tampak mengikuti pergerakan laju metro mini yang berjalan tidak stabil ini malah mengganggu dan menambah kejemuan ketika menyaksikan film ini.

======================================================================

Territorial Pissing | Sutradara: Jason Iskandar | Durasi: 7 menit | Tahun: 2010 | Negara: Indonesia, Jakarta | Rating: 2 out of 5 stars.

Territorial Pissing, yang merupakan Film Pendek Asia Terbaik di Jogja-Netpac Asian Film Festival 2010, bercerita tentang dua remaja tanggung yang sedang beristirahat ketika melakukan perjalanan ke luar kota menggunakan mobil pribadi. Sebelum kembali melanjutkan perjalanan, percakapan terjadi diantara mereka dan sekelilingnya. Premis yang sederhana bukan? Dengan premis sesingkat itu Territorial Pissing mencoba mengungkapkan konflik yang terjadi diantara dua remaja tadi dengan cara mengontraskan mereka dengan pajangan Mickey-Mini Mouse yang “berkendara” di atas dashboard mobil mereka. Hal ini dirasa efektif, walau tak memberi penonton apa-apa.

======================================================================

Gak Semudah Itu, Brur | Sutradara: Gundala | Durasi: 4 menit | Tahun: 2009 | Negara: Indonesia, Jakarta | Rating: 4.5 out of 5 stars.

Obrolan sore hari terjadi antara Bruri dan temannya Iyank. Suasananya santai, mereka berbincang mengenai persoalan hidup Bruri sambil menonton TV. Bruri merokok, Iyank membaca koran. Namun, tunggu, perhatikan gerak-gerik Bruri dan Iyank. Pergerakan mereka mundur ke belakang, walau acara TV dan denting jam terus maju kedepan. Asap hasil hisapan rokok Bruri bukanya terhembus ke udara, malah tertarik ke dalam mulutnya. Gundala sang sutradara mampu memberikan efek sinematografis yang baik demi menyokong ending yang mampu membuat penonton terbahak. Gak Semudah Itu, Brur memberikan saya pelajaran bahwa ucapan kita 5 menit yang lalu bisa jadi sangat kontradiktif dengan apa yang kita lakukan sekarang.

======================================================================

Nyanyian Para Pejuang Sunyi | Sutradara: Adriyanto Dewo | Pemain: Titi Sjuman dan Lola Amaria | Durasi: 8 menit | Tahun: 2010 | Negara: Indonesia, Jakarta | Rating: 2 out of 5 stars.

Lanskap sebuah dermaga di Hongkong, dengan pemain Titi Sjuman dan Lola Amaria. Apa yang ada di fikiran Anda? Sesaat, saya mengira film pendek ini semacam extended version dari film Minggu Pagi di Victoria Park. Tapi entahlah, sampai film selesai, tidak ada informasi mengenai hal itu. Kemungkinan itu ada karena selain bersetting di Hongkong, film ini memakai tokoh Wati dan Sri yang menjadi tokoh utama dalam Minggu Pagi di Victoria Park. Diceritakan disini Wati dan Sri yang merupakan pembantu rumah tangga asal Indonesia memainkan permainan sederhana, dimana yang menang dapat mengambil kantong belanja bulanan majikannya. Apa yang terjadi ketika salah satu isi dari belaja bulanan itu daging babi? Bisakah najisnya daging babi tersebut “dicuci” dengan cleanser cream yang juga terdapat di dalam kantung belanja tersebut? Film tanpa dialog ini berujung absurd, walau dengan sinematografi yang baik.

======================================================================

Angkot dan Cerita | Sutradara:Herryaldi Kurniawan | Dokumenter | Durasi: 11 menit | Tahun: 2011 | Negara: Indonesia, Padang Panjang | Rating: 2 out of 5 stars.

Dokumenter ini menyoalkan stiker yang menempel pada jendela -jendala angkutan umum di Padang Panjang . Perhatikanlah, begitu seringnya kita menemui striker bergambar bendera Britania Raya, Amerika, Jepang, dll. Ada juga lambang band - band tanah air seperti Slank, Iwan
Fals, Dewa, dan semacamnya. Beberapa ada yang bertuliskan ‘Losta Masta’ atau ‘Anak Nongkrong MTV’. Bermacam stiker itu rupanya dipilih berdasarkan selera sang supir ataupun pemilik angkot tersebut.

Cerita dibangun dari obrolan dua supir angkot yang bertugas sebagai narator. Dari pemilihan striker angkot, bergeser ke wacana bahwa sangat sedikit sekali angkot yg ditempeli stiker bendera Indonesia ataupun tulisan yang berbau nasionalisme. Lama kelamaan, diskusi semakin melebar sampai pada isu politik di negara - negara berkembang. Film yang menggunakan teknik zoom sampai extreme zoom ini, pada awalnya menarik, namun semakin lama semakin membosankan.

======================================================================

Black Journey | Sutradara: Astu Prasidya | Animasi | Durasi: 4 menit | Tahun: 2011 | Negara: Indonesia, Malang | Rating: 3 out of 5 stars.

Animasi kedua dari sekuen EoS Short Competition adalah Black Journey. Animasi ini menceritakan tentang perjalanan singkat yang miris dan kelam dari seekor anak burung yang belum lagi menetas dengan sempurna namun terjatuh dari pohon dan kini harus mencari induknya. Ia harus berkenala sampai ke kota, dimana ia menjadi korban paling nyata dari pemanasan global. Detail - detail yang ada dalam perjalanan sang anak burung mampu mengundang simpati. Klise, ingin mengingatkan kita akan bahaya pemanasan global namun dieksekusi dengan sangat menyentuh.

======================================================================

Emit | Sutradara: Sammaria Simanjuntak | Pemain: Sunny Soon | Durasi: 5 menit | Tahun: 2011 | Negara: Indonesia, Bandung | Rating: 3 out of 5 stars.

Sammaria Simanjuntak lagi - lagi memakai Sunny Soon dalam filmnya. Dan film ini pun, seperti Nyanyian Para Pejuang Sunyi yang mengingatkan saya akan Minggu Pagi di Victoria Park, Emit mengingatkan saya akan film Cin(t)a. Pertanyaan saya pun berulang, apakah film pendek ini semacam extended version dari film panjang yang sudah ada?

Layar dibuka dengan Sunny Soon yang seperti dalam film Cin(t)a, menggunakan simbolisasi jari yang digambari wajah saling berpeluk satu dengan yang lain. Dari awal hingga pertengahan film, kita disuguhkan Sunny Soon yang tersenyum riang ke arah kamera, seakan - akan yang merekamnya itu kekasih hatinya. Lalu ada simbolisasi satu jari yang menjauh dari jari yang lain, dan kemudian segalanya diulang seperti alur flashback hanya saja kini dengan wajah Sunny yang muram. Film ini seperti ingin menggambarkan kesedihan seorang lelaki yang ditinggal kekasihnya dan menyesal pernah melakukan apa yang mereka lakukan ketika masih bersama.

======================================================================

Dari kesembilan finalis EoS Short Competition, saya paling suka dengan Gak Semudah Itu, Brur. Film ini membuktikan bahwa dengan ide cerita yang simple dan eksekusi teknik visual yang tepat, empat menit adalah durasi yang cukup untuk menyuguhkan cerita yang menghibur dan penuh arti.

Baca juga:

Review Nowhere Boy (opening film for EoS 2011)

Review EoS Short Film Competition 2010 (SOIna, CINtA, Purnama di Pesisir, Your Phone Is Off The Hook)

Kompilasi Review EoS 2010 (Seven Billyard Tables, The World Is Big And Salvation Lurks Around The Corner, Soul Kitchen, Pains of Autumn, The Mystery of Sintra’s Road, Brideshead Revisited, dan Cosmonaut)


Filed under review EOS Shorts Bermula Dari A BW Purba Negara Timun Mas Gatya Pratiniyata Shelter Ismael Sasbeth erritorial Pissing Jason Iskandar Ga Semudah Itu Brur Gundala Nyanyian Para Pejuang Sunyi Adriyanto Dewo titi sjuman Lola Amaria Angkot dan Cerita Harryaldi Kurniawan Black Journey Astu Prasidya Emit Sammaria Simanjuntak Sunny Soon film pendek indonesian film

73 notes

These are some of tons of on-set photos of The Dark Knight Rises in New York that have made their way to the internet, showing off our lovely Christian Bale as Bruce Wayne, the breakthrough in Nolan’s Batman trilogy Joseph Gordon-Levitt and the director himself Christopher Nolan.

The Dark Knight Rises will hit theaters on July 20, 2012. Another casts join on board are on A-lists: Michael Caine, Gary Oldman, Morgan Freeman, Tom Hardy, Anne Hathaway, Marion Cotillard, Juno Temple, Josh Pence, Daniel Sunjata, Nestor Carbonell, Matthew Modine, Tom Conti, Joey King, Brett Cullen, Chris Ellis, Josh Stewart, Christopher Judge, Adam Rodriguez and Rob Brown.

(Source: comingsoon.net)

Filed under The Dark Knight Rises joseph gordon-levitt Christian Bale Christopher Nolan Michael Caine anne hathaway Gary Oldman Morgan Freeman Tom Hardy Marion Cotillard Juno Temple Josh Pence Daniel Sunjata Nestor Carbonell Matthew Modine Tom Conti Joey King Bret Cullen Chris Ellis Josh Stewart Christopher Judge Adam Rodriguez Rob Brown

15 notes

Review: Magic Beyond Words - The JK Rowling Story

Magic Beyond Words – The JK Rowling Story | Sutradara: Paul A. Kaufman | Penulis Skrip: Jeffrey Berman & Tony Caballero (based on a novel by Sean Smith) | Pemain: Poppy Montgomery, Janet Kidder, Antonio Cupo, Emily Holmes, Andy Maton, Wesley McInnes, Patti Allan | Tahun: 2011 | Negara: UK, Scotland | Rating: 3,5 out of 5 stars

Christopher: "Jo, I give you a business advice, don’t quit your day job, nobody makes any money writing children books." | Jo: "Ah, well, I write because I love to write, not because I want to get rich."

Kalimat diatas dilontarkan oleh Christopher Little, seorang agen untuk para penulis, ketika ia dan JK Rowling hendak mencari penerbit yang bersedia menerbitkan novel pertama Harry Potter. Persepsi mengenai penulis buku anak-anak yang dianggap tidak dapat menjadi tumpuan penghasilan pun terbukti tidak berlaku pada JK Rowling, karena justru dengan menulis buku anak-anak lah ia sekarang menjadi salah satu wanita terkaya di dunia.

Nama JK Rowling mungkin telah menjadi salah satu nama penulis paling terkenal di dunia saat ini. Siapa yang tidak tahu sang pengarang ketujuh novel Harry Potter yang telah menyihir dunia selama lebih dari satu dekade ini? Penulis novel yang juga selalu menjadi penulis skrip (bersama Steve Kloves) seluruh film Harry Potter ini mulai mencuat namanya ketika novel Harry Potter pertama - Harry Potter and the Philosopher’s (Sorcerer’s) Stone terbit di UK tahun 1997 dengan membawa cerita petualangan nan segar tentang seorang bocah yatim piatu yang menyadari dirinya seorang penyihir dan kemudian mengalami perjalanan hidup yang luar biasa inspiratif ketika ia “terpaksa” menjadi pahlawan dunia sihir dan berhadapan dengan penyihir yang membunuh kedua orangtuanya.

Kisah hidup JK Rowling sang penulis ternyata tak kalah inspiratifnya dengan ketujuh novel Harry Potter yang melambungkan namanya. Sebuah stasiun TV Amerika, Lifetime Television tertarik untuk mengangkat kisah hidup sang penulis yang akrab disapa Jo ini melalui sebuah film televisi biopic berjudul Magic Beyond Words – The JK Rowling Story yang telah ditayangkan beberapa waktu yang lalu.

Magic Beyond Words – The JK Rowling Story memotret kehidupan Jo dari semasa ia kecil sampai menjadi seorang penulis novel terkenal. Diceritakan Jo kecil yang punya daya khayal tinggi sering bermain bersama adiknya Diane menjadi nenek sihir penjaga hutan di dekat rumah mereka di pedalaman Skotlandia. Daya khayal Jo tersebut ia tuangkan dalam berbagai tulisan. Sayangnya, Jo kecil tidak punya banyak teman dan selalu dianggap aneh oleh teman-teman sebayanya. Hanya Sean Harris, remaja pria berambut merah yang mau berteman dengannya. Hidup Jo bertambah rumit ketika suatu hari ibunya divonis mengidap penyakit multiple sclerosis. Banyak keputusan hidup yang harus ia ambil dengan pertimbangan penyakit ibunya tersebut, salah satunya, impiannya untuk menjadi penulis. Setelah lulus kuliah, Jo kerap berpindah-pindah pekerjaan karena tidak dapat menemukan satu pekerjaan pun yang ia rasa cocok untuknya. Hingga suatu hari sepulang Jo dari wawancara pekerjaan, ia tertidur dalam kereta api dan bermimpi tentang seorang bocah kurus berkacamata. Darisitulah ide menulis Harry Potter dengan segala dunia sihirnya muncul. Namun tak lama kemudian ibunya meninggal. Kenyataan pahit ini kemudian membuatnya berfikir ulang untuk berprofesi sebagai penulis. Proses menulis novel Harry Potter pun terhenti karena Jo kemudian lebih memilih pindah ke Portugal demi mengejar karir sebagai pengajar. Disana Jo bertemu dan kemudian menikah dengan Jorge Arentes. Sayang, ketika baru dikaruniai seorang anak, rumah tangga mereka harus kandas dan menyebabkan Jo harus pulang kembali ke Skotlandia dalam keadaan yang sangat miris: janda beranak satu dengan uang pas-pasan ditangan, tanpa pekerjaan maupun tempat tinggal. Disaat terburuk dalam hidupnya inilah, hanya dua hal yang membuat Jo tegar: anaknya Jessica, dan berlembar-lembar draft novel Harry Potter yang selalu mengingatkannya akan impiannya menjadi seorang penulis.

Magic Beyond Words – The JK Rowling Story bercerita dengan gaya yang personal, menyoroti jatuh bangunnya kehidupan seorang JK Rowling dan berbagai hal yang menjadi sumber insiprasinya dalam membangun dunia Harry Potter. Sehingga, tidak heran jika film ini dipenuhi dengan detail-detail yang tersusun rapi dan akurat. Sayangnya, pada paruh awal film, detail-detail tersebut terasa sedikit dipaksakan. Lihatlah bagaimana pemilihan beberapa pemain pada menit-menit awal yang berparas serupa dengan tokoh-tokoh dalam novel Harry Potter. Patti Allan yang berperan sebagai Mrs. Morgan, guru SD Jo berparas dan berakting layaknya Maggie Smith ketika memerankan Prof. McGonaggal dalam film Harry Potter. Begitu juga dengan Wesley McInnes yang berperan sebagai Sean Harris amat mirip dengan penggambaran karakter Ron Weasley lengkap dengan mobil Ford Anglia biru mudanya. Kemiripan tersebut tentu saja untuk menunjukan bahwa tokoh-tokoh tersebutlah yang menjadi sumber inspirasi Jo ketika menciptakan karakter McGonaggal dan Ron dalam novel Harry Potter. Namun, sayangnya detail ini tidak dieksekusi dengan baik sehingga terasa sangat gamblang dan tidak kreatif. Kemunculan para pemain yang mirip dengan tokoh dalam dunia Harry Potter terasa seperti tempelan karena mereka tidak banyak membantu dalam proses pembangunan cerita, dan seakan ada hanya untuk memenuhi premis “tokoh A dalam dunia Harry Potter ternyata terinspirasi dari si B dalam hidup JK Rowling” saja.

Untunglah pada paruh berikutnya film mengalir halus dan mulai nikmat untuk diikuti, seiring dengan pergerakan cerita yang semakin berfokus pada lika-liku kehidupan Jo. Tidak ada lagi kemiripan tokoh yang menjemukan, dan sebagai gantinya film menyajikan kita lanskap Portugal yang eksotis dengan gang-gang sempit, pub malam dan rumah susun; tempat-tempat dimana kisah cinta Jo dengan Jorge terajut dan juga kandas. Film pun semakin bertambah menarik ketika Jo kembali ke Skotlandia sebagai single parent dan merajut kembali impiannya sebagai penulis. Proses penulisan novel Harry Potter pun kembali disuguhkan, namun kali ini dengan cara yang segar, imajinatif dan menarik. Kita akan dibuat tersenyum melihat bagaimana Jo mendapatkan ide untuk membangun dunia sihir miliknya. Hal-hal kecil seperti melihat permainan catur dapat ia olah menjadi sesuatu yang menarik untuk novelnya. Bagi Anda yang menyukai dunia Harry Potter seperti saya, Anda akan dibuat tersenyum ketika melihat sketsa awal trio Harry, Ron, Hermione dan Dumbledore sang kepala sekolah sihir Hogwarts yang Jo gambar disela-sela kesibukannya mengajar di sekolah.


Dari departemen akting, applause diberikan kepada Poppy Montgomery yang mampu tampil apik dan hampir tanpa cela disepanjang film dalam menggambarkan sosok Jo. Terlepas dari parasnya yang memang mirip dengan Jo, Montgomery pun mampu menampilkan Jo dengan segala emosi, rasa ketidakamanan (insecurities) dan keadaanya psikisnya yang tidak stabil ketika diterpa segala problematika hidup. Montgomery mampu menampilkan itu semua lewat bahasa tubuh dan ekspresi wajahnya yang membuat penonton kadang terlupa bahwa yang mereka tonton bukanlah JK Rowling. Aktris lain juga tampil sama baiknya adalah Janet Kidder yang berperan sebagai Anne Rowling, ibu Jo. Kidder mampu menarik simpati penonton bukan dengan mengumbar rasa sakit murahan karena menderita penyakit berat yang kala itu tidak dapat disembuhkan, namun dengan ketegaran dan kehangatan seorang ibu yang luar biasa. Hal ini yang lantas menginspirasi Jo untuk tetap kuat seberapa sulit pun hidupnya, dan kemudian “ditularkan” kepada karakter Harry Potter yang ditulisnya. Antonio Cupo sebagai Jorge Arentes pun mampu tampil mengesankan sebagai suami yang kasar dan tempramental.

After all, Magic Beyond Words – The JK Rowling Story memang suguhan spesial bagi Anda penggemar dunia sihir Harry Potter. Namun tidak lantas film ini menjadi tidak menarik bagi penonton umum. Kisah Jo yang tetap menulis dalam kondisi apapun, hingga akhirnya berhasil mendapatkan agen dan penerbit yang bersedia menerbitkan novelnya dan untuk pertama kalinya melihat novel Harry Potter berjejer memenuhi rak-rak toko buku akan menjadi kisah yang inspiratif bagi siapa saja, terlepas apakah Anda penggemar Harry Potter atau tidak. Ditambah dengan beberapa footage JK Rowling ketika beliau menghadiri pemutaran perdana film Harry Potter and the Sorcerer’s Stone maupun book-signing di awal dan akhir film, Magic Beyond Words – The JK Rowling Story menjadi film yang sayang untuk dilewatkan begitu saja.


Filed under British film Magic Beyond Words - The JK Rowling Story Poppy Montgomery adaptation biopic review uk JK Rowling Paul A. Kaufman Jeffrey Berman Tony Caballero Sean Smith Janet Kidder Antonio Cupo Emily Holmes Andy Maton Wesley McInnes Patti Allan harry potter related Harry Potter

25 notes

US trailer for most-wanted Japanese action / crime Outrage or in the original title Autoreiji. Directed, written and starred by the visionary and marvelous Takeshi Kitano (Achilles and the Tortoise, Beat Takeshi), Outrage follows the story of a boss of a major crime syndicate (Yakuza) orders his lieutenant to bring a rogue gang of drug traffickers in line, a job that gets passed on to his long-suffering subordinate.

The film has been released in Japan last year and nominated for Palm d’Or Award at 2010’s Cannes Film Festival but lost it to Thai’s Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives. The film has also been screened at many film festivals, one of which at 2010’s Jakarta Film Festival (Jiffest). Outrage opens in US theaters on December 16, 2011.


(Source: Yahoo!)

Filed under outrage takeshi kitano

10 notes

Eight promotional character posters of The Hunger Games have been released by Lionsgate. The upcoming adaptation based on Suzanne Colin’s best selling novel with the exact same title, follows the story of a 16-year-old Katniss Everdeen (Jeniffer Lawrence) living in the post-apocalyptic country of Panem in which each year a boy & girl are chosen from each of the country’s 12 districts to fight each by lottery & compete to the death in gladiator-like spectacles, the Hunger Games. Katniss is from one of the poorest districts, but she is skilled in archery and hunting, which makes her a fierce competitor.

Those eight character posters showing Jeniffer Lawrence as Katniss Everdeen, Alexander Ludwig as Cato, Lenny Kravitz as Cinna, Elizabeth Banks as Effie Trinket, Liam Hemsworth as Gale Hawthrone, Woody Harrelson as Haymitch Abernathy, Josh Hutcherson as Peeta Mellark, and Amandia Stenberg as Rue. Other than those, joining the casts are Donald Sutherland, Toby Jones and Stanley Tucci.

The Hunger Games opens in theaters March 23, 2012.


(Source: scriptflags.com)

Filed under Suzanne Colin The Hunger Games jennifer lawrence Alexander Ludwig Lenny Kravitz Elizabeth Banks Liam Hemsworth Woody Harrelson Josh Hutcherson Amandia Stenberg Donald Sutherland Toby Jones Stanley Tucci

3 notes

Three pop-up screening posters of the upcoming Jason Reitman’s Young Adult. Written by Diablo Cody, it is a film that centered on Mavis (Charlize Theron), a desperate young adult fiction writer who returns to her home in small-town Minnesota, looking to rekindle a romance with her ex-boyfriend, who is now married with kids. Mavis, the leader character, is essentially an alcoholic, delusional, narcissistic and one hell of a hot mess. Or in other word, it’s a film about a hot bitch.

Young Adult will hit theaters December 16, 2011. Many says that the Paramount purposely releases the film in the Oscar game period, so that the film will have a kind of award-buzz. This strategy has been proved successful for previous Paramount films like True Grit and The Fighter.

(Source: blogs.indiewire.com)

Filed under Young Adult jason reitman Charlize Theron Diablo Cody

0 notes

US official poster for We Need To Talk About Kevin. Directed by Lynne Ramsay, the film follows the mother of a teenage boy who went on a high-school killing spree tries to deal with her grief — and feelings of responsibility for her child’s actions — by writing to her estranged husband.

Lead by the underated actress Tilda Swinton, the film also has John C Reilly and Ezra Miller .

We Need To Talk About Kevin opens in New York and LA in December 9, 2011.

 Tweet

US official poster for We Need To Talk About Kevin. Directed by Lynne Ramsay, the film follows the mother of a teenage boy who went on a high-school killing spree tries to deal with her grief — and feelings of responsibility for her child’s actions — by writing to her estranged husband.

Lead by the underated actress Tilda Swinton, the film also has John C Reilly and Ezra Miller .

We Need To Talk About Kevin opens in New York and LA in December 9, 2011.

Filed under We Need To Talk About Kevin Tilda Swinton John C Reilly Ezra Miller Lynne Ramsay